Selasa, 28 Juli 2015

Berang-berang Gaus Leus



Lebih cepat Pino,ayo kejar Poni... !
                                Jangan mau kalah Poni,berenanglah lebih cepat...!
                                Pino menyusul..!
                                Poni masih memimpin...!

“Yun,kapan yah kita bisa ke Paris?”
“kapan saja bisa kok,kita kendarai Poni dan Pino saja”
“ngaco kamu,nanti kalo udah besar aku mau ke sana”
“emangnya bisa?”
“bisa dong,kalau kita mau berusaha,belajar dan berdoa”
“eh... Poni sampai finish duluan”
                Poni kembali berenang ke arahku,cipratan air sungai yang dingin di pagi itu berkali-kali menampar wajahkua,aku mengelus-ngelus Poni,berang-berang yang sangat lucu. Kulihat Naya juga asyik bermain air dengan Pino,walaupun berang-berang miliknya kalah tetapi Naya tidak marah ia tetap dengan ceria bermain air bersama Pino. Baru dua bulan berang-berang itu menjadi milik kami setelah susah payah kami menolongnya yang terjepit di ranting pohong yang terjatuh di sungai dan sekarang kami begitu terlihat akrab.
Suara cipratan air itu? Kenangan masa lalu itu?
Perlahan mataku terbuka terlihat bebatuan bukit di sekelilingku. Aku pun tidak bisa bergerak karena seluruh tubuhku terasa sakit apalagi ketika kucoba mengingat apa yang terjadi padaku,kepalaku menjadi berat dan pusing. Kupaksakan juga untuk mengingatnya. Dua puluh jam yang lalu pesawat lepas landas dari Paris menuju Indonesia,Aceh setelah sebelumnya transit. Tiga hari yang lalu aku mendapat surat berisi kabar tidak menyenangkan,Naya sahabat masa kecilku sakit keras di sana,dia membutuhkan dokter sekaligus sahabat masa kecilnya. Aku.
Setelah meminta surat izin dari pihak Rumah Sakit di Paris aku segera menaiki pesawat untuk sampai di sana tapi sekarang aku berada di antah berantah tanpa ada satu orang pun yang bisa menolongku. Aku tidak boleh terlambat,aku harus segera menolong Naya tetapi apa yang bisa aku lakukan dengan keadaan seperti ini? Aku hanya bisa berdoa agar segera sampai di Gaus Leus dan menolong sahabat masa kecilku. Semoga !
Tubuhku belum bisa beringsut sedikit pun,rasanya sakit sekali. Maafkan aku Nay,jika aku tidak bisa datang tepat waktu karena aku pun tidak tahu bagaimana nasibku selanjutnya. Jika aku terlambat apakah aku dokter yang gagal? Apakah aku sahabat yang gagal?
-
Sore yang malang aku harus memeritahu Naya kalau aku harus pergi meninggalkannya ke Paris juga meninggalkan Poni yang lucu. Gerimis ternyata lebih dulu mengelamkan suasana,aku pun tidak bisa berkata dengan normal. Tertatih !
“Naya,maafkan aku”
“untuk apa kamu minta maaf padaku Yuna?aku tahu cepat atau lambat kita akan berpisah,ternyata kamu lebih beruntung yah dapat menjajah tanah Paris”
“kamu sudah tahu Nay?”
“iya,aku sudah membaca surat beasiswa itu. Maaf!”
“kamu tidak marah kan?”
“kenapa aku mesti marah jika sahabatku dapat meraih ambisinya,aku justru senang Yun. Pergilah! Gapailah impianmu!”
“terima kasih Nay,aku pasti merindukanmu,merindukan tempat ini dan juga Poni dan Pino. Aku titip Poni yah?”
“aku akan menjaganya sampai kau kembali lagi ke sini,aku akan merindukan calon dokter yang manis,hehe”
“jaga dirimu baik-baik aku akan segera meyelesaikan kuliahku dan kembali lagi ke sini”
“kau janji?”
“iya,aku janji!”
                Iya,aku janji !
                Iya,aku janji !
                Iya,aku janji !
~
                Ukh! Bayangan masa lalu itu kembali lagi menghantui fikiranku,membuatku kembali tersadar dari pingsan yang menyakitkan ini. Aku tahu, aku tidak boleh diam saja. Kucoba menggerakkan sebagian tubuhku,sakit tapi rasanya tak sesakit apa yang dirasakan Naya di sana,aku harus berjuang demi dia. Tapi,jika aku bisa berada di luar pesawat pasti ada orang lain juga di sini,mustahil aku bisa berada di sini dengan sendirinya. Aku harus menemukan pesawat itu karena aku membutuhkan koperku, di sana berisi peralatan medis sederhana dan berbagai obat-obatan,tidak mungkin juga aku ke Gaus Leus dengan tangan kosong. Dengan mengerahkan tenaga sepenuhnya aku berjalan tertatih mencari pertolongan dan setelah berjam-jam aku mencari seseorang akhirnya aku bisa menemukan pos jaga,benar dugaanku aku tidak sendiri ternyata banyak korban yang keadaannya lebih parah dariku.
“Nona,biar kubantu”
“tidak perlu,aku hanya perlu koperku dan mengetahui keberadaanku”
“koper? Ada beberapa koper dan tas yang berhasil diselamatkan,mungkin salah satunya milik Nona. Nona berada di Bromo”
“Bromo?masih jauh dari Gaus Leus?”
“tidak jauh jika menggunakan helikopter”
“bisa antar aku ke sana?”
“bisa”
                Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan Relawan yang baik hati ini,setelah aku berhasil menemukan koperku aku diantar olehnya dengan helikopter,luka-luka di tubuhku juga diobatnya dengan lembut. Ridwan,Relawan mudah,baik hati dan tampan relah dengan lelah membantu para korban,seketika aku mengagumi sosoknya.
“terima kasih”
“sama-sama,kenapa Nona ingin cepat-cepat ke Gaus Leus?”
“sahabatku sakit keras aku harus menolongnya,tidak ada dokter yang bersedia untuk mengabdi di tempat terpencil seperti itu. Dia membutuhkanku.”
“Nona seorang dokter?”
“iya,aku sedang bertugas di Paris”
Cuaca sedang buruk helikopter tidak dapat menjamah Gaus Leus lebih dekat terpaksa aku harus turun dan berjalan menuju Gaus Leus tetapi kakiku masih terasa sangat sakit. Aku harus berjalan tertatih tetapi aku juga merasa bersyukur lagi karena Ridwan mau membantuku menitih bebatuan dan anak sungai yang curam.
“jalannya tidak bagus”
“dari dulu memang seperti ini,maaf aku merepotkanmu”
“tidak apa-apa Nona,ini juga sebagian dari tugasku”
Byurr.. aku melihat Poni yang berenang dengan lincah di sungai sendirian,Naya ternyata telah menempati janjinya untuk menjaga Poni sampai aku kembali lagi ke sini tetapi aku sama sekali tak melihat Pino bahkan tak merasakan kehadirannya ,perasaanku menjadi tidak enak. Aku berharap tidak terlambat ke sana. Aku segera berjalan tertatih menuju rumah yang sangat kukenal,tidak banyak berubah dari dulu.
“Naya menunggumu Yuna” bisik suara parau ibuku
Ibu, dia tidak setegar dulu. Ibu,aku rindu!
“menungguku?”
Kulihat Naya memamerkan senyum yang khas dan hangat ke arahku,aku tak dapat menahan air mata seketika air mataku tumpah deras. Lihat Naya Yun,tubuhnya sungguh ringkih dan mengecil  ternyata sakit kerasnya telah menggerogoti sebagian organ tubuhnya yang membuatnya hanya bisa terbaring lemah. Aku segera mengeluarkan peralatan medisku tapi tangan mungil Naya dengan cepat menahan tanganku.
“aku tidak butuh peralatanmu Yun,aku hanya ingin melihat kamu”
“tapi kamu harus sembuh Nay,demi aku”
“waktuku tak banyak Yun,aku bahagia bisa melihat wajahmu lagi”
“jangan bicara begitu,kamu pasti bisa sembuh”
“aku rindu kamu Yun dan aku tidak pernah kecewa walaupun kamu tidak bisa datang melihatku dan sekarang aku sangat bahagia karena kamu bisa meluangkan waktumu untukku”
“maafkan aku Nay”
“tak apa, kamu lihat Pino di sungai?”
“tidak Nay,kemana dia?”
“dia sedang menungguku,menunggu waktu membawaku pergi”
Naya tersenyum hangat,sungguh hangat tetapi sangat menyakitkan bagiku karena itu senyum terakhirnya. Maafkan aku Nay,aku baru bisa menempati janjiku untuk kembali ke sini. Apakah aku terlambat?
~
Aku menatap haru Poni,jika berang-berang itu sudah tidak bisa berenang dan merasakan dinginnya air sungai itu artinya waktuku untuk menghirup dunia juga habis. Aku melepasnya pergi untuk melanjutkan hidupnya sendirian sama sepertiku. Biarkan kita meniti hidup masing-masing,jika waktu kita habis kita kan bertemu kembali.

                                                                                selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar