Selasa, 18 November 2014

Lagu ciptaan Gabriel Stevan Damanik - Menanti Dirimu Menahan Sepi




Menanti Dirimu

Kutau kusalah
 Memaksa kehendakku
 Tuk memilikimu
 Kuterluka tanpamu
 Sungguh ku tak bisa membenci dirimu
 Oh dirimu

 Menanti keajaiban
 Hingga kau buka hatimu
 Untuk diriku

 Hanya kisah ini takkan abadi
 Namun kau abadi di hati ini
 Meskipun harus menahan sepi
 Menanti dirimu di hati

 Hanya kisah ini takkan abadi
 Namun kau abadi di hati ini
 Meskipun harus menahan sepi
 Menanti dirimu di hati

Minggu, 16 November 2014

Gabriel Stevan Damanik










Gabriel Stevent Damanik (lahir di Batam, 24 Januari 1998; umur 16 tahun) adalah penyanyi yang mulai terkenal sejak mengikuti ajang pencarian bakat Idola Cilik 1 yang tayang di RCTI. Langkahnya terhenti dalam posisi tiga karena tergeser dari Kiki dan Angel sehingga tidak berhasil memasuki posisi GrandFinal.

Gabriel adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya bernama Kristania Damanik yang biasa dipanggil Tania, dan Gabriel sangat menyayangi adik semata wayangnya itu. Gabriel bersekolah di SMAN 39 Jakarta. Prestasi yang pernah diraih dalam kurikulum sekolah diantaranya adalah Juara 1 Lomba Matematika se-Batam waktu SMP. Meskipun Gabriel seringkali ke luar kota, peringkatnya tetap selalu masuk 10 besar.

Ayahnya adalah seorang calo paspor dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Anak laki-laki asal Batam ini sangat menyayangi adiknya karena adiknya memiliki perbedaan umur yang cukup jauh dengannya. Sifatnya yang suka bekerja keras untuk mendapatkan keinginannya itulah yang membawa Gabriel pergi ke Jakarta untuk pertama kalinya demi mengikuti Idola Cilik.

Gabriel kerap membuat para penggemarnya terharu ketika ia melihat ibunya sedang melihat-lihat majalah bergambar rumah Krisdayanti dan Raul di Laos, ia berkata, "Ma, nanti Iyel bakal beliin rumah ini buat mama."  Selepas dari Idola Cilik, Gabriel mampu membelikan mobil untuk orangtuanya dan membuatkan rumah di Jakarta.

Gabriel mendaftar Idola Cilik saat masih berusia sekitar 10 tahun dan duduk di kelas 3SD. Kejadian itu bermula ketika Gabriel membuka Internet dan melihat pendaftaran Idola Cilik. Dengan niat karena iseng, ia mendaftarkan diri dan ternyata diterima.Dalam idola cilik 1, Gabriel dikenal sebagai anak yang paling cepat berbaur dan menyesuaikan diri dengan yang lainnya. Menurut teman-temannya di Idola Cilik, Gabriel adalah anak yang tidak pernah menyerah, suka menolong, baik, dan sopan.

Di SIB ini, Gabriel dipercaya sebagai Vokalis Utama. Namun seiring jalannya waktu, Idola Cilik sempat melakukan jeda selama kurang lebih 3 tahun. Mengakibatkan eksistensi Super Idola Band ikut memudar. Gabriel sempat masuk dalam boyband yaitu Star5 (sekarang Stanza) namun kemudian menyatakan dirinya keluar.

Setelah Idola Cilik 1 selesai, Gabriel juga dipercaya untuk mengambil peran dalam drama "Musikal Laskar Pelangi" sebagai Mahar. Musikal Laskar Pelangi diambil dalam film/novel Laskar Pelangi, hanya saja para pemeran yang bermain disini dituntun untuk dapat berakting, menari, dan bernyanyi dalam waktu yang bersamaan.

Di SIB ini, Gabriel dipercaya sebagai Vokalis Utama. Namun seiring jalannya waktu, Idola Cilik sempat melakukan jeda selama kurang lebih 3 tahun. Mengakibatkan eksistensi Super Idola Band ikut memudar. Gabriel sempat masuk dalam boyband yaitu Star5 (sekarang Stanza) namun kemudian menyatakan dirinya keluar.

Setelah Idola Cilik 1 selesai, Gabriel juga dipercaya untuk mengambil peran dalam drama "Musikal Laskar Pelangi" sebagai Mahar. Musikal Laskar Pelangi diambil dalam film/novel Laskar Pelangi, hanya saja para pemeran yang bermain disini dituntun untuk dapat berakting, menari, dan bernyanyi dalam waktu yang bersamaan.

Jumat, 14 November 2014

Marc Marquez

Marc Marquez adalah pembalap muda di Moto GP, yang saat ini bergabung bersama tim Repsol Honda menjadi Patner Dani Pedrosa menggantikan Casey Stoner yang memutuskan untuk pensiun dini. Musim lalu, Marc Marquez berhasil menjadi Juara Moto 2. Pembalap bernama lengkap Marc Marquez Alenta ini, diharapkan bisa menjadi pesaing dari Tim Yamaha yang digawangi oleh Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi. Pembalap 21 tahun asal Spanyol ini, lahir di Spanyol tanggal 17 Februari 1993. Pada kesempatan kali ini, Saya akan memberikan Biodata dan Perjalanan Karir dari Marc Marquez.



Bintang sensasional Repsol Honda Marc Marquez kembali mencatatkan prestasi yang luar biasa di ajang balap Grand Prix sejauh ini. Pembalap kelahiran Cervera, Spanyol, berusia 21 tahun itu sukses meraih lagi gelar Juara Dunia MotoGP musim 2014.
Marquez melakukan debut di Kejuaraan Dunia pada tahun 2008 dalam usia 15 tahun dan meskipun pada musim rookie nya itu dia sempat mengalami cedera. Dia mencetak podium di balapan keenam di Donington Park, dan kembali naik podium pada tahun 2009. Dengan pengalaman lebih banyak, ia kemudian menjadi Juara Dunia di kelas 125cc untuk pertama kalinya pada tahun 2010 dengan memenangkan 10 dari 14 balapan pada musim tersebut.

Di kelas Moto2 pada musim berikutnya ia memenangkan tujuh balapan setelah mengalami awal musim yang sulit dan ia mendorong keras untuk meraih gelar juara namun harus kalah dari Stefan Bradl. Pada tahun 2012, Marquez berhasil meraih gelar juara Moto2 dengan total sembilan kemenangan dan 14 podium.

Berkat kegemilangannya itu, Marquez kemudian pindah ke kelas utama pada musim 2013, bergabung ke tim Repsol Honda. Pada tahun lalu, dia tampil mengesankan dalam usia 20 tahun dengan sukses menjadi pembalap termuda yang pernah meraih gelar juara dunia kelas premier di musim debut nya.

Dia juga menjadi Rookie pertama yang menjadi Juara Dunia sejak 35 tahun silam, dan memenangkan balapan untuk pertama kalinya di kelas utama hanya pada balapan kedua di MotoGP di Cirkuit of the Americas, Austin.

Selama tahun 2013, Marquez harus bertarung dengan trio pembalap berpengalaman Dani Pedrosa, Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi. Dia menorehkan total 16 podium dari 18 balapan, termasuk enam kemenangan. Ia mengamankan gelar juara hanya unggul empat poin atas pesaing terdekatnya Lorenzo.

Pada musim kedua di MotoGP, Marquez kembali menunjukkan performa mengesankan dengan memenangi sepuluh balapan pertama tahun 2014. Dia pun unggul jauh dari para pesaingnya di papan klasemen dan peluang mempertahankan gelar juara jelas lebih besar.

Setelah kemenangan fantastis di Silverstone, dengan memenangi duel brilian melawan Lorenzo, Marquez pun hanya butuh satu kemenangan lagi untuk memastikan diri jadi juara dunia tahun ini. Pada akhirnya, meski finis kedua di MotoGP Jepang, Marquez mengamankan gelar juara sebelum musim berakhir dengan menyisakan tiga balapan.










Biografi Marc Marquez
Nama Lengkap: Marc Marquez Alenta
Tanggal Lahir: 17 Februari 1993
Tempat Lahir: Cervera, Spanyol
Grand Prix Pertama: Qatar 2008, 125cc
Pole Position Pertama: Prancis 2009, 125cc
First podium finish: Great Britain 2008, 125cc
Kemenangan Grand Prix Pertama: Italia 2010, 125cc
Start Grand Prix: 111
Kemenangan Grand Prix: 43
Finis Podium: 67
Pole Position: 48
Fastest Race lap: 37
Gelar Juara Dunia: 125cc (2010), Moto2 (2012), MotoGP (2013 & 2014)

Karir MotoGP Mact Marquez :
Tahun 2008: Kejuaraan Dunia 125cc – Posisi 13 bersama KTM, 13 Start, 63 Poin
Tahun 2009: Kejuaraan Dunia 125cc – Posisi 8 bersama KTM, 16 Start, 94 Poin
Tahun 2010: Kejuaraan Dunia 125cc – Juara Dunia bersama Derbi, 17 Start, 310 Poin
Tahun 2011: Kejuaraan Dunia Moto2 – Posisi 2 bersama Suter, 13 Start, 251 Poin
Tahun 2012: Kejuaraan Dunia Moto2 – Juara Dunia bersama Suter, 17 Start, 324 Poin
Tahun 2013: Kejuaraan Dunia MotoGP – Juara Dunia bersama Honda, 18 Start, 334 Poin
Tahun 2014: Kejuaraan Dunia MotoGP – Juara Dunia bersama Honda, 15 Starts, 312 Poin

Kamis, 13 November 2014

Please Don't Go

tadaaa~~ aku bawa FF nih :p ini FF buatan aku yang pertama, aku rasa ini FFnya kurang nendang jalan ceritanya, jadi aku keluarin belakangan :P hehehehehe, gausah banyak omong, silahkan membaca ^^

Tittle : Please Don't Go
Cast : Shin Min Young, Neul Chan, Hwang Yeon Rin, Choi Minho, Jonghyun, Kim Kibum
Genre : Tragedy, Romantic, Friendship

(OST. Hello)
Seperti biasa aku mengayuh sepedaku menuju sekolah yang cukup jauh dari rumahku, jam ku menunjukkan pukul 07.00 dan membuat aku terburu-buru mengayuh sepedaku. ‘Ini semua pasti karena aku rela begadang hanya untuk menemani oppaku, oppa Jonghyun! Awas saja kalau aku sampai terlambat ke sekolah, sampai rumah akan ku hajar dia!’
“Haduh, sebentar lagi pukul 07.10 bisa bisa jadi pajangan di lapangan!” gerutuku sambil mengayuh sepeda secepat mungkin. Karena terlalu terburu-buru aku tak melihat ada kubangan air di tengah jalan, dan akhirnya aku terciprat air! “Sial!” gerutuku lagi.
Kini jamku menunjukkan pukul 07.06 huaa!!! Empat menit lagi bel sekolahku akan berbunyi! Tepat 07.08 gerbang sekolahku sudah terlihat, aku pun bernapas lega, kurang sedikit lagi!
“Hey minggir!” teriakku saat aku menyadari ada mobil yang juga akan masuk menuju sekolah, tapi karena aku tidak bisa ngerem mendadak, akhirnya aku menabrak bagian belakang mobil itu, sampai lecet! Saat itu juga pemilik mobil itu keluar dari mobilnya, dan menghampiri diriku.
“Apa kau tidak punya mata? Ha? Kau pikir harga mobil ini murah? Kau sudah membuat mobil baruku ini lecet!” cerocos pemilik mobil itu,
“Mianhae, aku tidak sengaja, aku sedang terburu-buru, aku hampir terlambat, dan sekarang aku benar-benar terlambat!” kataku dengan nada yang sedikit meninggi,
“Jadi kau menyalahkanku karena kau terlambat? Siapa suruh kau terlambat? Sekarang kau harus ganti rugi!” kata pemilik mobil itu sambil menunjuk ke arah bagian mobilnya yang lecet.
“Baik, akan ku ganti! Tapi izinkan aku untuk memarkirkan sepedaku dan bergegas masuk ke kelasku yang berada di lantai tiga!” aku pun bergegas mengambil sepedaku yang tergeletak dan membawanya ke tempat parkir dan berlari sekencang mungkin.
“Hey! Kembali!” teriak pemilik mobil tadi.
“Sudahlah Key, lebih baik sekarang kita menuju kantor untuk menanyakan dimana kelas kita,”
***
‘Setelah insiden mobil tadi aku benar-benar marah pada yeoja tadi, dia pikir dia siapa? Dengan mudah mengatakan akan mengganti kerusakan mobilku? Dan aku berjanji akan menagih janjinya!’
“Key, Key!” Minho membuyarkan lamunanku tentang yeoja itu. “Ne.. kemarin ada seorang guru yang bilang bahwa kami masuk kelas XI.2, dan kami mohon bantuannya untuk bisa menuju ke kelas,” guru itupun mengantarkan kami menuju tangga, menuju lantai dua, kemudian beranjak menuju tangga selanjutnya dan sekarang kami berada di lantai tiga! ‘Lantai tiga? Berarti yeoja menyebalkan itu juga ada disini! Hah, lihat saja nanti!’
“Ini kelas kalian,” kata guru itu sambil membukakan pintu kelas XI.2. “Kamsahamnida!” ucap kami sambil membungkukkan badan.
“Kau?” tunjukku pada seorang yeoja yang berdiri di depan kelas!
“Key!” yeoja itupun memelukku erat dan mendapat tatapan heran dari seisi kelas.
“Neul Chan, lepaskan aku! Kau tahu kan kita berada dimana?” bisikku saat yeoja itu masih memelukku erat.
“Mian, Key. Aku tak menyangka gossip tentang murid baru itu ternyata benar, dan ternyata itu kau!”
“Mian, apa kau murid baru itu?” tanya guru yang saat itu sedang berada di dalam kelas.
“Ne..” “Kenalkan diri kalian,”
“Saya Kim Kibum, kalian bisa memanggilku Key, saya pindahan dari Seoul,”
“Saya Choi Minho, panggil saja Minho, saya juga pindahan dari Seoul, salam kenal,”
“Kalian boleh duduk di belakang, dikursi yang kosong itu! Neul Chan, lanjutkan pekerjaanmu!” Aku dan Minho pun duduk di belakang, di dekat jendela, dan dari sini aku bisa menikmati pemandangan hamparan sawah dengan bukit yang ada diujung persawahan itu, sungguh indah.

“Key, kenapa kau tidak memberiku kabar bahwa kau akan pindah kesini?” tanya Neul Chan saat jam istirahat tiba.
“Aku pikir ini bisa jadi kejutan,” kataku bohong, sebenarnya aku tidak berharap bisa satu sekolah dengan yeoja menyebalkan ini! Apalagi sekelas, sudah cukup aku dipermainkan oleh yeoja ini!
“Key, ternyata kebiasaanmu yang romantis itu tidak pernah hilang. Kau masih bisa membuat kejutan itu, dan merasa sangat senang,” aku hanya terdiam melihat tingkahnya yang sangat menjijikkan itu..
“Minho, kau mau kemana?” teriakku saat melihat Minho keluar dari kelas, dan aku langsung menyusul Minho dan meninggalkan yeoja itu.
“Minho, kau mau kemana?” kuulangi lagi pertanyaanku tadi.
“Aku ingin ke kantin,” ucap Minho sambil berjalan tanpa tahu arah,
“Apa kau tahu dimana kantin?” saat mendengar pertanyaanku, Minho langsung menepuk bahu seorang yeoja.
“Kau tahu dimana kantin?” yeoja itupun berbalik, dan terlihat terhipnotis oleh tatapan Minho yang flame itu.
“Hello? Kau mendengarku?” yeoja itu hanya diam,
“Ah.. bagaimana denganmu? Bisa kau tunjukkan dimana kantin?” yeoja yang satu lagi pun berbalik.
“Kantin? Ayo ikut aku!” yeoja itupun berjalan, tapi tunggu! Dia yeoja yang menabrak mobilku! Saat aku akan menegurnya, Minho malah menghalangiku.
“Jangan bawa masalah mobilmu dulu, Key, aku yakin pasti ketika dia sadar bahwa itu kau, dia akan ganti rugi,” aku pun menurut dan berjalan mengekori Minho. Tibalah kami di kantin, dan terlihat kantin ini sangat ramai, sampai aku tidak bisa melihat kios-kios makanan untuk kami singgahi.
“Tempat ini memang ramai, apa kau masih mau menunggu sampai antrian selesai?” tanya yeoja itu pada Minho.
“Aku rasa tidak, apakah ada kantin lain yang tidak seramai ini?”
“Semua kantin ditiap lantai selalu penuh, kalau kau datang terlambat seperti ini dijamin kau hanya akan menghabiskan waktu istirahatmu dengan menunggu! Apa kau sangat lapar?”
“Tentu saja, apalagi temanku yang ada disana!” Minho langsung menunjuk ke arahku, dan yeoja itu menoleh ke arahku.
“Kau? Yang tadi aku tabrak mobilnya?” tanya yeoja itu saat ia melihatku,
“Ne.. untung kau masih ingat aku, jadi..” seketika Minho menginjak kakiku!
“Aw! Minho!”
“Hmm, sekali lagi mian, aku rasa untuk sementara aku bisa menebus kesalahanku, ayo ikut aku!” ucap yeoja itu sambil berjalan menuju suatu tempat. Perpustakaan! Dia membawa kami ke perpustakaan? Dia pikir kami akan kenyang dengan tumpukkan buku?

“Ayo masuk, mian jika aku hanya bisa memberi ini..” dia mengambil sesuatu dari tas yang ada di atas meja perpustakaan,
“Sandwich! Ah, aku sangat suka ini!” kataku sambil langsung melahap makanan gratisku itu,
“Ayo makan,“ kata yeoja itu sambil menyodorkan sandwich pada Minho. “Kamsahamnida!” dan terlihat dia memberi senyum.
Selagi kami berdua makan sandwich yeoja itu malah asyik baca buku tebal, terlihat sangat membosankan. Tapi aku rasa yeoja ini memang pintar, tunggu! Yeoja? Ah.. aku belum menanyakan namanya!
“Siapa namamu?” tanya Minho duluan, ah.. Minho kau selalu bisa membaca pikiranku,
“Namaku Shin Min Young, panggil saja Min Young, kalau kalian?”
“Aku Minho, dan ini Key. Kami pindahan dari Seoul,” saat aku akan bertanya lebih jauh bel tanda masuk berbunyi. Dan Min Young pamit untuk kembali ke kelasnya, sedangkan aku dan Minho kembali ke kelasku. Entah kenapa sejak insiden mobil tadi aku merasa tertarik pada Min Young… ha? Tunggu? Apa ini? Kenapa aku mengatakan hal sepertiku? Ah, pabo!
***
Jantung ini berdegup dengan cepat saat aku mengetahui bahwa orang yang aku tanya adalah Min Young, bukan karena aku terkejut mengetahui dia orang membuat mobilnya Key rusak, tapi adalah karena aku merasakan jatuh cinta. Entah rasanya ada sesuatu hal yang membuatku tertarik padanya. Setelah bertahun-tahun aku hidup tanpa seseorang yang kucinta, sejak yeoja impianku malah berkhianat dan lebih memilih namja lain. Dan sejak saat itu aku enggan mengenal cinta, dan aku merasa bahagia dapat merasakannya kembali.
“Min Young, maukah nanti kau pulang sekolah dengan kami?” tanyaku pada Min Young saat Key lebih dulu ke kelas. “Mian Minho, hari ini aku akan pulang bersama oppaku, aku pikir lain kali saja, tapi kamsahamnida sudah mengajakku ^^” katanya sambil tersenyum manis, dan aku merasa terhipnotis dengan senyumnya yang begitu indah, walau aku kecewa tidak bisa pulang bersamanya, tapi paling tidak aku mendapat senyum termanis di dunia.
Saat semua anak XI.2 sedang menunggu guru, tiba-tiba seseorang memasuki kelas kami, dia mengenakan kacamata, kaos panjang, celana jeans, dan sepatu bermerk nike, sepertinya ia anak kuliahan. “Annyeonghaseyo!” sapanya saat memasuki kelas,
“Annyeonghaseyo!” balas kami semua. Deg! Aku kembali terkejut! Sebelumnya aku pernah mengenalnya! Dia… Dia yang merebut yeojachinguku! Yang membuat yeojachinguku berpaling dariku dan lebih memilih namja ini!
“Nama saya Jonghyun, kalian bisa memanggilku Oppa atau Hyung, saya akan mengajar di sini selama sebulan ke depan, mohon bantuannya!” ucapnya sambil membungkuk, kemudian duduk di tempat biasanya guru enak bersender.
Manis sekali ucapannya, pantas saja yeojachingu bisa luluh hanya dengan kata-kata yang ia buat, ini membuat selera belajarku buyar. Tapi sekarang jam pelajaran musik, pelajaran yang paling aku suka, jadi harus membenci musik hanya karena dia?
***
“Ehm, apa ada yang mau mengambil gitar di lab. musik?” pintanya pada kami, aku langsung mengacungkan tangan dan bergegas keluar kelas. Walaupun aku tidak tahu di mana laboratorium musik di mana, paling tidak aku tahu bagaimana cara bertanya pada seseorang.
Gawat! Di luar tidak ada orang! Haruskah aku menuju kantor guru yang ada di lantai satu? Akupun memilih untuk ke perpustakaan, siapa tahu ada orang yang bisa kutanya.
“Key?” sapa seseorang dari dalam perpustakaan.
“Min Young? Kenapa tidak ke kelas?” tanyaku padanya. “Khusus untuk seminggu ini aku ditugaskan membuat karya ilmiah, jadi aku harus seharian di perpustakaan, kau sendiri?”
“Aku disuruh mengambil gitar, tapi aku tidak tahu dimana lab musik, bisa kau membantuku?”
“Ne~” diapun berjalan keluar perpustakaan dan menuju tangga, dan sekarang kami berada di lantai empat, yang ternyata semua lab ada di sana.
“Ini lab musik, kau bisa mengambilnya…” aku pun segera mengambil sebuah gitar dan kembali menuju kelas. Ah.. aku merasa senang bisa sedekat itu dengan Min Young, di jalan aku hanya bisa tersenyum-senyum sendiri,
“Ini hyung~” kataku sambil memberi gitar itu, “Kenapa lama sekali?” “Mian, aku tadi harus mencari dulu dimana lab musik, karena aku orang baru di sini,” dia hanya menjawabnya dengan Oh.. Aku bisa merasakan kehangatan dari guru ini, aku pikir dia seorang musisi yang sangat berbakat di usianya yang tak terpaut jauh dariku.
“Minho, bukankah guru musik kita kali ini sangat mengasyikan?” bisikku pada Minho, tapi dia tidak menjawab malah asik dengan dunianya sendiri, aku lihat dia sedang mencorat-coret buku tulisnya, dan aku intip..
“Hwang Yeon Rin!”teriakku saat aku mengintip hasil coretan Minho, mendengar teriakkanku yang keras itu semua orang menatapku termasuk Hyung Jonghyun.
“Hwang Yeon Rin? Siapa dia?” tanya Hyung Jonghyun padaku, bisa kulihat tanda tanya besar di raut wajahnya.
“Ini Min…” saat itu juga Minho mencubit tanganku sangat keras, dan aku bisa membaca pikirannya bahwa aku dilarang mengatakannya.
“Hwang Yeon Rin itu sepupunya Key, dia sangat merindukannya, jadi dia berteriak memanggil namanya!” Minho berbohong! Kenapa ya? Pasti ada sesuatu antara dia dan Yeon Rin. Jujur aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
“Oh, apa yang kau maksud Yeon Rin yang sekarang tinggal di Jepang? Dan sekarang seumuran denganmu, Key?” tanya Hyung Jonghyun lagi,
“Dia sudah lama meninggal, maka dari itu Key sangat merindukannya,” Minho berbohong lagi! Apa sebenarnya masalah namja ini? Aku harus menanyakannya nanti! Sedangkan Hyung hanya bisa memberi kata oh…
“Untuk perkenalan disini saya akan menyanyikan lagu yang saya buat sendiri, saya harap kalian berkenan untuk mendengarkannya,”
(OST. Romantic)
Nae maeumi ganeundaero nan
Amusaenggak obsi gotgo iji
Ni moseubeul dalmeun
Nugungareul chaneun gonji nan
Geunyang geu jarie su iso

No animyon andwaeneun gol
Ijeya araborin naega nomu bichamhae
Sajik sogen ajikdo naega noye
Sarangi got gateunde

Noye cheon, noye olgul
Ajikdo nae pum ane
Neukyojigo ineun gol
Still I have Romantic in my heart
Doragago sipeungol

Tepuk tangan riuh saat hyung berhenti bernyanyi dengan petikan gitar, aku yakin siapapun yang mendengarkannya pasti akan merasakan hal yang sama, yaitu kagum, dan terhanyut dalam atmosfer yang ia buat saat membawakan lagu itu. Tapi terlihat satu orang yang tidak begitu antusias dengan nyanyian ini, siapa lagi kalau bukan Minho? Aku lihat mood Minho hari ini sedang buruk, entah apa penyebabnya, tapi aku ikut sedih melihatnya begini, sangat tidak bersemangat.
***
“Hey, kenapa kau jadi tidak bersemangat begini?” tanya Key padaku yang berjalan sempoyongan.
“Tidak, hanya tidak enak badan… Mungkin besok aku tidak bisa masuk sekolah,” kataku sambil memegang gagang pintu mobil, saat akan masuk ke dalam mobil, aku melihat Min Young bersama Jonghyun! Apa jangan-jangan Jonghyun adalah kakaknya Min Young?
“Min Young!” sapa Key saat Min Young melewati mobil kami yang akan segera melucur meninggalkan tempat parkir.
“Hai, Key! ^^” Sial, Key dapat senyuman terindah dari Min Young! Saat mendapat sapaan balik dari Min Young, Key malah menghampirinya dan meninggalkanku sendiri di dalam mobil -_-
Sekarang mereka sedang asyik mengobrol, dan aku rasa Min Young mengenalkan Jonghyun pada Key, dan pasti mereka bilang kalau mereka sudah saling kenal, dan bla bla bla bla~~ Cukup lama aku menunggu Key, dan akhirnya dia kembali ke tempatnya. Bisa kulihat betapa girangnya Key, aku rasa dia merasa cukup bangga bisa mengenal Jonghyun yang adalah oppanya Min Young, aku rasa aku cemburu! Apa? Cemburu? Apa bisa ku jamin Key suka pada Min Young? Ah.. biar saja!
“Minho, kau tahu siapa Hyung Jonghyun?” Key mulai angkat bicara saat ia mulai mengeluarkan kami dari sekolah,
“Dia guru yang akan mengajar kita sebulan ke depan!” kataku sambil menekankan kata ‘sebulan’
“Hei Minho, kau ini kenapa? Aku rasa kau benar-benar harus istirahat, hyung itu kakaknya Min Young!” sudah bisa ku tebak!
“Lalu apa urusannya denganku? Apa menurutmu aku butuh informasi tidak penting itu?” kataku ketus, bisa ku lihat raut wajah Key yang sedikit bingung dengan perubahan sikapku ini.
“Baiklah, kalau itu memang tidak penting. Tapi, kau harus jawab pertanyaanku ini! Apa hubunganmu dengan Yeon Rin?” aku langsung tersentak, raut wajahku mulai memanas, ingin rasanya aku teriak agar perasaan ini tidak membebaniku. Aku hanya diam, tak mampu berkata apa-apa,
“Minho! Jawab pertanyaanku!”
“Baiklah Key! Dia dulu yeojachinguku! Dia memilih putus denganku karena dia lebih memilih Jonghyun! Paham? Jadi aku sangat muak melihat wajah Jonghyun!” aku benar-benar teriak! Sedikit lega memang, tapi aku merasa sikapku ini seperti anak kecil yang merengek saat melihat temanku mempunyai mainan lebih bagus dariku.
Aku sudah memasang telinga untuk mendengar omelan Key yang mungkin akan meledek sebagai anak kecil, tapi dia malah diam dan terus menatap ke arah jalan, ku pikir itu memang harus dilakukan daripada konsentrasinya buyar karena memarahiku?
Cukup lama kami mengitari jalan, tapi tak kunjung sampai, aku rasa kita berada di jalan yang salah!
“Key, apa kau hafal jalan menuju rumah?” Key hanya mengangguk,
“Sampai!” sampai dia bilang? Ini bukan rumah kita! Jadi kemana sebenarnya kita?
“Annyeonghaseyo Key, Minho ^^” sapa Min Young saat kami ada di depan gerbang rumahnya, iapun membukakan gerbang dan membiarkan mobil Key masuk ke dalam pekarangan rumah Min Young. Min Young sekarang tampak lebih cantik, dengan rambut yang masih dikepang seperti tadi, dipadu kaos polos berwarna hijau dan celana panjang berwarna putih.
“Minho! Sambil menunggu Key memasukkan mobilnya, ayo kita masuk dulu ^^” walaupun sebenarnya aku enggan, karena aku tahu di ruang tamu sedang duduk Joghyun! Tapi setelah melihat Min Young yang pasti membuat semua pria akan luluh melihatnya, aku pun duduk bersebrangan dengan Jonghyun, dia terlihat sedang bermain-main dengan gitarnya. Aku akui namja ini memang sangat mahir dalam bermain musik, mungkin ini sebabnya Yeon Rin lebih memilihnya.
“Annyeong Minho?” tanyanya padaku, jujur aku sangat terkejut dia bertanya padaku.
“Sedikit sakit, ehm.. tadi waktu di kelas…” saat akan melanjutkan kata-kata, Key malah nyelonong masuk dan mengambil tempat duduk di samping Jonghyun, sedangkan sekarang aku berada di samping Min Young. “Aku mau buat minum dulu ya,” Min Young pun berlalu menuju dapur,
“Tunggu aku ikut!” Key pun meninggalkan kami, hanya ada aku dan Jonghyun.
“Apa yang akan kau katakan, hyung?” tanyaku dengan nada yang sedikit kuberi tekanan, mungkin agar sedikit seperti percakapan orang dewasa :P
“Yeon Rin, dia pacarmu bukan?” ha? Hyung ini hanya ingin bertanya seperti itu?
“Dulu, sebelum dia memilihmu,” jawabku sedikit meremehkan,
“Memilihku? Kau serius? Ah, mungkin ini penyebabnya Yeon Rin lebih memilih tinggal di Jepang,” apa maksudnya? Kenapa semua terdengar sangat bohong? Memang satu tahun terakhir ini aku tidak pernah melihat Yeon Rin, terakhir saat aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.
“Mwo?”
“Aku lihat kau berada di gedung teater saat itu, kau melihat aku dan Yeon Rin sedang bermain piano kan? Sebenarnya waktu itu aku sedang menyatakan perasaanku padanya, tapi ternyata dia sudah punya pacar yaitu kau, dan aku tidak tahu sebelumnya,”
“Bohong!”
“Untuk apa aku berbohong? Lagipula sekarang aku sudah punya pacar, dan itu bukan Yeon Rin! Kau harusnya sadar Minho, kau adalah cinta sejati Yeon Rin!” Aku hanya bisa terdiam melihat kenyataan yang begitu tak bisa aku terima, ternyata selama ini aku sudah membuang cinta yang selama ini membuat hidupku berarti!
“Tapi kenapa Yeon Rin tidak mencoba menjelaskan padaku tentang kejadian yang aku lihat?”
“Karena kau tidak memberinya kesempatan untuk berbicara!” aku sadar, saat itu aku memang tidak memberi Yeon Rin kesempatan untuk berbicara, karena ku pikir akan sangat menyakitkan mendengar kenyataan itu darinya langsung!
***
Ku dengar keributan dari ruang tamu, dan aku tahu betul yang sedang bertengkar adalah oppaku dan Minho, aku sangat terkejut, terutama saat mereka menyebut-nyebut Yeon Rin, aku rasa Yeon Rin yang mereka maksud adalah sahabatku. Jujur aku sangat sakit hati mengetahui Minho yang sering diceritakan Yeon Rin adalah Minho yang sekarang telah membuat potongan puzzle dalam hatiku menjadi lengkap, tapi tiba-tiba hilang dan membuat ruang hampa di hatiku. Saat keribtuan sudah tidak terdengar aku pun kembali ke ruang tamu dengan membawa minuman dibantu Key yang membawa kue kering.
“Apa yang kalian bicarakan?” rasanya aku terlalu bodoh melontarkan pertanyaan ini, sebab siapapun akan tahu kalau mereka sedang membicarakan yeoja yang membuat mereka berdua jatuh cinta, dan rela melakukan apa saja demi yeoja itu.
“Bukan apa-apa, Min Young apa suara oppa terdengar sangatlah keras?”
“Aku rasa tidak, mungkin karena rumah kita ini kecil, jadi tak perlu berteriak keras agar aku bisa mendengarnya dari jauh.”
“Min Young, aku ingin bicara sebentar,” Minho langsung menggandeng tanganku dan membawaku ke pekarangan depan dan duduk di dekat ladang bunga yang kecil.
“Yeon Rin itu…” baru aku berkata rasanya aku bisa merasakan perasaan yang sedang hancur.
“Min Young, cukup aku sudah kehilangan Yeon Rin, aku memang sangat menyesal, tapi apa kau tahu? Sekarang aku menemukan yeoja yang sempurna melebihi Yeon Rin!” kata-kata Minho membuatku bagai ditusuk dua pisau sekaligus, aku merasa sangat sedih ternyata tak ada celah untukku.
“Apa dia sudah jadi pacarmu?” tanyaku untuk menutupi kekesalanku,
“Belum, hanya sebatas teman biasa, aku baru bertemu dengannya hari ini, di sekolah, dan aku sangat menikmati saat-saat bersamanya. Aku bisa merasakan jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya kalau aku berada di dekatnya,” ku dengarkan curhatan Minho tentang yeoja yang ia sebut-sebut sempurna itu, dan aku sangat merasa terpukul mendengarnya, benar-benar kecewa.
“Kalau aku boleh tahu siapa yeoja yang sampai membuat jantungmu berdegup cepat?” tanyaku ingin memastikan siapa orang yang dimaksud, siapa tahu aku mengenalnya dan aku ingin membandingkan antara aku dan dia.
“Kau sangat mengenal orang itu, bahkan lebih dari pada aku, mungkin kau bisa membaca pikirannya, dia tinggal tak jauh dari sini,” sukses besar Minho membuatku rapuh, dan benar saja aku sudah benar-benar rapuh, mataku memanas dan aku tak bisa membendung air mata ini!
“Min Young?” tanyanya sambil meletakkan tangannya dibahuku dan merendahkan tubuhnya agar bisa melihat wajahku yang sekarang sudah tak karuan. Aku menangis! Wajahku memerah! Aku tak bisa menyembunyikan kekecewaan ini!
“Aku terharu, bahagia melihat kau sudah menemukan pengganti Yeon Rin, aku sangat senang sampai aku menangis!” kataku sesegukkan, dan Minho meletakkan kepalaku di dalam dadanya yang lapang, kehangatan, dan perhatian yang ia berikan benar-benar membuatku tenang, tapi tetap saja air mata ini tak bisa kuhentikan.
“Aku pikir kau tidak terharu, melainkan cemburu!” sial! Minho tahu benar perasaanku saat ini!
“Lihat kau sekarang, sangat tertekan, sudahlah Min Young, sekarang yeoja cantik itu sudah lebih dulu dekat dengan temanku,”
“Key? Apa kau tidak cemburu?”
“Tidak, karena aku sudah melihat yeoja itu menangis karenaku, dan dia mencoba melepas penat dalam hatinya padaku. Dan aku tahu sebenarnya yeoja itu juga suka padaku,” aku hanya bisa terdiam mendengarkan dan terus menangis dalam pelukan Minho yang hangat itu. Pasti yeoja itu sangat beruntung bisa mendapatkan namja sesempurna Minho.
“Sampai kapan kau menangis?” tanya Minho seolah-olah dia ingin berkata sudah-aku-capek-melihatmu-menagis-berhentilah. Dan aku langsung bangkit dari pelukan itu dan sekarang hanya bisa duduk di samping Minho. Tapi tangan hangat itu memegang kepalaku dan meletakkan kepalaku di bahunya, dan aku tak bisa menolaknya.
“Mian, telah membuatmu menjadi kesusahan seperti ini, aku tahu aku sangat menyebalkan!” kataku sambil memukul-mukul kepalaku dengan tanganku, yang tak kurasa sakit apapun, tapi sekali lagi tangan hangat itu meraih tanganku dan terus menggenggam tanganku. Bisa kurasakan detak jantungku berderu lebih cepat bahkan melebihi detak jantungku saat aku selesai berlari sejauh 50KM. Kenapa namja ini benar-benar membuatku merasa sakit yang tiada tertandingi, dan membuatku merasa begitu senang dan terbang begitu tinggi?
“Min Young tahukah kau siapa yeoja itu?” ucapan Minho membuat telingaku langsung bekerja sehati-hati mungkin agar aku tidak salah dengar.
“Dia adalah…” katanya menggantungkan kalimatnya, membuatku semakin penasaran dan deg-degan.
“Shin Min Young!” tiba-tiba ada suara lain yang membuyarkan kehati-hatianku, Key! Sekarang dia duduk di sampingku dan mencoba untuk menegakkan kepalaku yang bersender di bahu Minho. Ah.. dia benar-benar mengganggu atmosfer yang menurutku sudah dibangun apik oleh Minho. Padahal aku sangat ingin mendengar namanya, tapi aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk bertanya pada Minho lagi, aku juga punya gengsi, tak mungkin aku bertanya di depan Key!
“Kenapa kau menangis?” tanyanya padaku sambil mengusap air mataku dengan lembut, tak kusangka Minho malah pergi menuju mobil L aku sedih melihatnya, padahal aku berharap sekarang ia sudah lega karena bisa menceritakan siapa sebenarnya yeoja itu.
“Hey, kenapa kamu menangis?”
“Tidak, hanya sedikit terharu dengan cerita Minho,” karena aku juga tidak begitu betah, maka aku putuskan untuk menuju teras rumahku, tak lupa aku mengajak Key untuk ikut bersamaku. Begitu aku melewati mobil Key, dan melihat betapa mata Minho memberikan tatapan kosong, dan aku bisa merasakan kepedihan yang ia rasakan.
“Minho? Ayo masuk ke dalam!” ajakku pada Minho sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil, iapun bangkit dan mengekoriku. Sungguh aku tak menyangka dihari pertama kita bertemu, pertama kali aku jatuh cinta, sungguh menggembirakan, walau ada hal kecil yang cukup membuatku terpukul.
“Min Young, kami mau pamit pulang dulu, sampai bertemu besok!” Key pun membungkukkan badannya begitu juga dengan Minho, sebelum perpisahan ini kamu sempat bertukar nomor ponsel, agar kami bisa berkomunikasi lebih dekat. Melihat kedua namja itu menjauhi gerbang rumahku, aku dan kakakku akhirnya memilih masuk rumah, dan melanjutkan aktivitas lain.
“Oppa, boleh aku bertanya sesuatu?” “Mwo?”
“Apakah Yeon Rin yang kalian bicarakan tadi adalah sahabatku? Dan apa benar oppa mencintainya?” kulihat oppa sangat terkejut, dan dia diam lama, mungkin sedang memikirkan apa yang akan ia katakan.
“Ya, dulu saat dia belum pindah ke Seoul, kami sempat dekat dan aku sangat menginginkan kami punya hubungan yang lebih serius. Tapi dia harus pindah ke Seoul, jadi aku tidak pernah mendapat kabar tentangnya. Sampai akhirnya aku harus pulang pergi ke Seoul untuk kuliah, dan aku bisa menemukannya karena dia les di tempat aku mengajar, sejak saat itu kami mulai dekat kembali. Saat kami memulai kembali hubungan yang sempat terputus, aku lihat dia merasa nyaman, dan aku rasa itu bukanlah perasaan seseorang yang sedang memiliki seseorang saat dekat dengan orang yang bukan siapa-siapanya. Sa…”
“Tunggu oppa, apa oppa tidak berpikir untuk bertanya dulu? Kalau aku jadi Yeon Rin mungkin aku akan melakukan hal yang sama, karena aku juga tidak ingin hati oppa langsung hancur,” selaku memotong curhatan oppa yang kelihatannya masih akan terus berlanjut.
“Aku tahu aku memang salah, tapi biarkan aku menyelesaikan ceritaku ini,” aku pun hanya bisa menaikkan alisku dan mencoba menjadi pendengar yang baik.
“Sampai mana aku tadi?” pertanyaan itu membuat suasana menjadi sedikit cair, dan aku mencoba menahan tawa.
“Saat oppa merasa dia tidak punya pacar,”
“Ne~~ Lalu aku sangat ingin menyatakan perasaanku karena aku tidak ingin kehilangannya lagi, aku pun mempersembahkan sebuah lagu dengan iringan piano di sebuah gedung teater. Saat aku selesai menyanyikan lagu itu aku langsung mengatakan cinta, dan dia menolakku! Sungguh itu adalah kenyataan yang sangat pahit,” aku pun menepuk bahu oppa, berharap tepukkanku itu bisa sedikit mengurangi bebannya.
“Kemudian dia menangis, sebagai seorang namja yang baik hati dan tidak sombong ini – aduh!” sempat aku jitak kepala oppaku, karena kata-katanya terasa merupakan suatu kebohongan, dan dia membalasnya, aku hanya bisa diam karena jitakkan oppaku telah membuat kepalaku sedikit benjol.
“Tanpa komando dia memelukku dan perlahan namun pasti dia menceritakan bahwa dia sudah punya namjachingu, dan celakanya sekarang dia ada di tempat yang sama!”
“Kok bisa dia di sana?”
“Sebelumnya aku bilang bahwa aku ingin mengajaknya hanya untuk melihat teater yang akan kami gunakan untuk pentas, dan dia menyuruh Minho untuk mengantarkannya, dan aku tak menyadari hal itu!”
“Sudahlah oppa, aku rasa sudah tidak ada gunanya lagi kita mengungkit masalah ini, lagipula sekarang Minho sudah menemukan yeoja yang katanya jauh lebih baik bahkan sempurna,” kuberi tekanan pada kata sempurna, dan aku mendapati oppa melihatku tajam.
“Kamu cemburu ya?” gawat! Wajahku memanas, aku rasa jika aku punya kaca besar di depanku aku bisa melihat betapa merah pipiku. Dan aku langsung menjauhkan wajah oppa dari wajahku, paling tidak ini bisa mengurangi rasa maluku.
“Nope, nggak mungkin aku cemburu, siapa aku siapa dia?” jawabku sedikit panik, “Ah… saengku mulai merasakan cinta!” sambil menggodaku dia menyenggolku genit, ah >.<
***
“Minho, sebenarnya apa yang membuat Min Young menangis, ha?” dia tidak menjawab, malah terus asyik dengan ponselnya,
“Hei, mungkin sekarang kita harus ke dokter,” Minho pun menoleh padaku.
“Kamu sakit? Sini biar aku yang menyetir,”
“Bukan aku yang sakit, tapi kau!” “Aku?”
“Lihat saja dari tadi kau terlihat lesu, lalu telingamu sedikit tidak berfungsi, bahkan saat aku bertanya kau tak menjawab!”
“Mian hyung, aku rasa kau benar, tapi lebih baik kita segera ke rumah, aku ingin istirahat.” Aku pun menurut dan sekarang kami sudah ada di dalam rumah, sedang Minho langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
“Minho, kau pikir Min Young itu yeoja yang seperti apa?”
“Aku sedang tidur Key!” “Tidur kok nyahut?” aku pun meninggalkan Minho di kamar dan menuju dapur untuk membuat nasi goreng, karena aku merasa sangat lapar hari ini. Mungkin aku bisa membuatkan dia semangkuk soup untuk Minho, siapa tahu keadaannya bisa membaik. Dan aku pun sibuk membuat nasi goreng dan soup, aku tidak ingin besok harus berangkat ke sekolah sendirian. Tak lama tanganku sudah penuh dengan dua piring.
“Minho, makanlah ini!” panggilku,
“Aku tidak lapar, Key!” dia membentakku, benar-benar bukan Minho yang kukenal.
“Terserah yang penting aku sudah bersusah payah membuatnya, akan kutinggalkan soup ini di sini kalau kau menghargaiku tolong makan ini,” aku pun meninggalkan Minho dan kembali menuju dapur.
“S, H, I, I, I, I, N, double E yeah You gotta get in to my rhyme” ku dengar ponselku bordering, ada sms!
(OST. Life)
Key, oppa Jonghyun kecelakaan! cepat ke rumah sakit di dekat sekolah!
Apa? Hyung Jonghyun kecelakaan? Padahal baru beberapa menit yang lalu kami bersama, sebenarnya apa yang terjadi? Semoga Hyung baik-baik saja!
“Minho, kau mau ikut tidak? Hyung Jonghyun kecelakaan!” teriakku sambil meraih gagang pintu, tapi Minho tak kunjung beranjak dari posisinya.
“Ayolah Minho, dia kan oppanya Min Young dan guru kita juga, sangat menyedihkan jika kita tidak menjenguknya!” mohon ku pada Minho, dan dia pun mengikuti langkahku.
“Kapan dia kecelakaan?” tanyanya saat dalam perjalanan.
“Aku tidak tahu, coba kau sms Min Young,” Minho pun terlihat mengutak-atik ponselnya.
“Dia tertabrak mobil saat menuju ke rumah kita!” teriak Minho, sungguh aku sangat kaget dan bisa kulihat Minho sangat bersedih. Setibanya kami di rumah sakit terlihat Min Young sedang menutupi wajahnya yang penuh dengan airmata.
“Min Young?” sapa Minho pertama kali sambil duduk di samping Min Young, sedangkan aku duduk di sisi lain di samping Min Young.
“Minho!” spontan Min Young memeluk erat Minho, sungguh aku bisa merasakan betapa sakitnya hatiku.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku pada Min Young, siapa tahu dengan itu Min Young melepaskan pelukannya.
“Ini,” dari dalam tasnya Min Young mengeluarkan secarik kertas yang dilapisi amplop berwarna biru.
“Oppa sebenarnya ingin memberi ini padamu Minho, tapi dia malah tertabrak,” ucapnya seraya menitihkan airmata. Minho pun membaca isi surat itu, raut wajahnya berubah dan ia mulai menangis saat selesai membaca isi surat itu.
“Kau kenapa Minho?” diapun menyerahkan surat itu kepadaku.
Oppa Jonghyun,
Sudah lama kita tidak berjumpa dan aku sangat merindukanmu, bagaimana kabarmu sekarang? Pasti kau sudah menjadi musisi yang hebat iya kan? Oppa, maaf aku baru memberi kabar padamu,aku tidak sanggup harus berkata kita harus berpisah. Tak hanya denganmu oppa, tapi juga Minho namja yang sangat aku cintai di dunia ini. Aku tak akan menyalahkanmu oppa atas kejadian yang sangat membuat hidupku menjadi berat, malah aku berterima kasih sebab jika bukan karena kau mungkin sekarang aku tidak akan rela melepaskannya.
Oppa.. aku tak tahu apakah saat kau membaca surat ini aku masih ada di dunia ini atau tidak, kepergianku bukan untuk menjauhimu, tapi karena aku harus berjuang melawan penyakitku. Aku tak bisa mengatakan apa penyakitku ini, yang jelas dokter bilang umurku sudah tak lama lagi. Oppa tolong jika kau bertemu dengan Minho bilang padanya bahwa hanya dia namja yang ada di hatiku, sekeras apapun dia membenciku aku tetap cinta padanya, aku sangat merindukannya, satu-satunya semangat hidupku adalah dia sekalipun dia tidak ada di sampingku sekarang. Saranghae jeongmal saranghae Choi Minho…
“Kenapa ini bisa terjadi? Betapa bodohnya aku meninggalkannya sendirian! Pabo pabo pabo!” teriak Minho sambil memukul-mukul kepalanya dengan tangannya.
“Sudahlah Minho, kau tak perlu merasa bersalah,” kataku sambil menepuk bahunya.
“Tak perlu merasa bersalah katamu? Kau tahu aku adalah semangatnya untuk hidup! Sedangkan saat dia mencoba agar bisa sembuh aku malah meninggalkannya! Apa aku bisa memaafkan diriku sendiri?” teriak Minho padaku, aku tahu perasaan Minho sekarang, dan aku tak bisa melakukan banyak hal.
“Dokter, bagaimana keadaan oppaku?” tanya Min Young saat seorang dokter baru saja keluar dari ruang ICU.
“Dia sudah sadar, kalian bisa menjenguknya sekarang,” saat itu juga Min Young langsung masuk disusul aku dan Minho.
“Oppa! Aku senang kau sudah sadar,” sapa Min Young sambil memeluk Hyung.
“Minho.. ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu,” Minho pun mendekat ke arah Hyung.
“Aku sudah baca surat itu, aku merasa sangat menyesal telah melakukan hal itu,”
“Syukurlah, sekarang kau harus menjaga Min Young dengan baik, jangan sampai dia menangis lagi karenamu.”
“Kau ini bilang apa oppa? Masih ada kau yang akan menjagaku!” teriak Min Young sambil memegang erat tangan Hyung Jonghyun.
“Aku akan pergi jauh, saeng. Kau mau kan Minho?” Minho pun mengangguk, Hyung pun tersenyum lepas dan memejamkan matanya.
***
Tak terasa sudah dua tahun setelah kepergian Jonghyun dan Yeon Rin, dan sudah dua tahun pula aku dan Minho bersama. Aku sangat bahagia sebab Minho benar-benar menjagaku seperti apa yang dikatakan Oppa. Sedangkan Key, dia sudah menyatakan perasaannya padaku, dan aku sangat menyesal karena aku tidak bisa membalas perasaannya terhadapku. Terima kasih Oppa telah memberi kebahagian ini pada kami J

Playboy In The School

Playboy In The School
      Ali, nanti sore jalan yuk
      Sayang, pulang sekolah anterin shopping yah…
      Honey, malem nonton yuk.
SMS di hape Ali penuh SMS dari semua pacarnya, Ali memang punya banyak pacar. Bukan karena punya sifat playboy, tapi karena Ali tidak tega menolak semua yang nembak dia. Makanya sekarang Ali dijuluki Playboy In The Scholl atau PTS. Jelas Ali merasa tidak nyaman dengan semua perlakuan pacarnya, dan sampai sekarang Ali belum menemukan seseorang yang benar-benar ia cintai.
  Maaf, kita resmi putus sejak hari ini! Keputusan Ali telah bulat, hari ini Ali akan mengakhiri semua hubungan dengan pacarnya! Spontan semua pacar Ali tidak mau hal itu sampai terjadi, tapi Ali tidak merespon semua balasan SMS dari mantan pacarnya.

“Li, lo putusin semua cewek lo?” tanya Ray sahabatnya.
“Iya, kenapa dek? Masalah?”
“Banget! Semua cewek lo yang ngandalin gue sebagai perantara pada demo ke gue, SMS dari tadi malem sampe sekarang selalu ada. Makanya hape gue tinggal, males gue! Eh, maksud gue Ali bukan kakak.”
“Lo aja males, apalagi gue Ray. Dari semua cewek nggak ada yang gue suka.”
“Serius? Bukannya lo jatuh cinta sama Prilly?”
“Ha? Prilly? Setelah gue tahu Prilly nggak menarik.”
“Mau lo kayak apa sih?”
“Cewek idaman gue tuh, setia, putih, pinter, sholeha, baik, cantik, tinggi, perfectlah.” Ucap Ali sembari melihat sesosok anak baru yang lewat di depannya.
“Jangan bilang lo suka sama anak baru itu!”
“Bener, Ray!” Ali pun berlari mengejar cewek itu, tapi…
 “Pagi kak Alvin!”
“Pagi Yang, nggak nyangka kita satu sekolah.” Cewek itu memeluk Alvin, langsung Ali merasa hatinya hancur dan terasa perih.
“Eh, Ali! Dik, aku titip Ghina ya. Dia nanti bakal masuk kelas kamu.”
“Siap, kak!” Ali merangkul Ghina dengan PeDe dan tanpa rasa malu padahal masih ada Alvin.
“Kenalan boleh, asal nggak pakai rangkulan gitu!” Ali langsung melepas tangannya dari bahu Ghina.
“Kamu Ali ya?”
“Iya, nama kamu siapa?”
“Ghina,” perkenalan itu membuat Ali bahagia, sebab ia telah menemukan pujaan hati yang dicarinya.
“Kak Alvin, pacar kamu?”
“Ah, iya. Kenapa? Cemburu ya?”
“Tahu aja kamu!” Ups, keceplosan.
“Aku bilangin ke kak Alvin lho!”
 “Jangan, Ghina! “

 Ghina, aku suka sama kamu!
  g prcy, bktiin bsk dsklh!
“Katanya suka sama aku.” Sindir Ghina pada Ali.
“Nggak berani sampe pacaran, Ghi. Mending kita TTM aja. Biar kak Alvin jugga nggak kashian.”
“O.K.” Sejak saat itu Ghina dan Ali menikmati hari bersama, duduk berdua, makan berdua, jalan-jalan berdua, pokoknya hampir satu sekolah tahunya Ghina pacarnya Ali. Tapi setiap ditanya pasti jawabannya ‘Kita nggak pacaran!’
 Sudah sekitar 4 bulan Ali dan Ghina TTM-an, dan mereka tetap menjalaninya dengan suka cita. Sebenarnya Ghina  bukan pacarnya Alvin, tapi mereka itu hanya bersaudara. Dan sampai sekarang Ghina masih merahasiakannya.
“Ghi, kak Alvin dateng tuh. Cepet jauh-jauh!” komando Ali, dia memang selalu siap siaga jika Alvin lewat di depan mereka.
“Dik, nanti kumpul, kan?” Alvin menepuk bahu Ghina
“Ah, iya dong. Nanti mama kakak ikut, nggak?”
“Hmm, nggak tahu juga, Ghi. Tenang nanti papaku pasti dateng.” Kemudian Alvin berlalu, langsung Ali mengambil jarak dekat lagi dengan Ghina.
“Mau ngapain nanti, Ghi?” Ghina , menahan tawanya, tapi kemudian menjawab.
“Mau ngelamar aku! Hahahaha”
“Lho, kok ketawa?”
“Kamu nggak ngerasa ya? Aku sama kak Alvin tuh masih sepupu. Mana mungkin pacaran? Aneh-aneh aja.”
“Tapi kok waktu itu kak Alvin panggil Yang?”
“Nama aku kan Ghina Hani Qayang. Jadi kak Alvin panggil aku Qayang, atau Yang.”
“Jadi? Selama ini sama aja kita kayak pacaran dong?”
“TTM, Ali!” Ghina mengacak-acak rambut Ali.
Hari itu jadi hari perenungan buat Ali tentunya, karena dia baru sadar bahwa ia dan Ghina sudah sangat dekat. Sebenarnya ia ingin menyatakan cintanya, tapi karena pertama kali jadi sedikit grogi. “Gimana sih cara nembak cewek?” gumam Ali sendiri.
“Aku tahu caranya!”
  Esoknya pelajaran seni musik Ali membawa gitar, kebetulan pelajaran seni musik adalah pelajaran terakhir jadi bisa latihan dulu.
“Oh… Yeah heah yeah…Mmm. I'd wait on you forever and a day, hand and foot, your world is my world, yeah… Ain't no way you're ever gon' get, any less than you should, cause baby. You smile I smile, oh….. Cause whenever, you smile I smile…” tepuk tangan mengiringi selesainya latihan Ali. Ali langsung bingung kenapa semua teman sekelasnya bertepuk tangan? Tapi ya sudahlah….. “Ali, bagus banget!” Ghina pun memeluk Ali, nah kesempatan ini tiak disia-siakan oleh Ali.
“It’s a big big world, tt’s easy to get lost in it, you’ve always been my girl, and I’m not ready to call it quits, we can make the sun shine in the moonlight, we can make the great clouds fill the blue skies, I know it’s hard baby believe me…”
“Lagu ini buat kamu! Aku cinta Ghina Hani Qayang! I Love You Ivon!” Semua tercengang mendengar penutup lagunya itu, terutama Ghina.
“Ali? Jadi selama ini kamu anggep aku suka sama kamu?”
“Kalau itu aku nggak tahu, tapi aku ingin kamu jadi pacar aku.”
“Sini!” Ghina menggeret tangan Ali mengajaknya pergi dari kerumunan di kelas.
“Kamu bilang kita cuma TTM.” Ghina mendahului percakapan ini.
“Tapi setelah tahu kamu bukan milik kak Alvin, aku beranikan diri untuk nembak kamu. Apa salah?”
“Maaf, Ali. Tapi kamu sendiri yang nyuruh kita cuma TTM-an aja, jadi aku nurut apa kata kamu. Dan asal kamu tahu sekarang aku udah pacaran sama… Ray!”
“Apa? Kamu nggak salah pilih?”
“Nggak Ali, aku tahu kamu tuh perfect tapi aku cuma sayang sama Ray. Maaf, ya…” Kemudian Ghina memeluk Ali sebagai tanda permintaan maaf.
“O.K. Aku bisa nerima semuanya, tapi kita tetap TTM-an kan?”
“Siap! Aku janji saat aku sudah putus sama Ray, aku bakal nerima kamu!”

Sejak saat itu Cakka pun mengerti apa itu cinta, yaitu tak harus memiliki. Dan harus secepatnya menyatakan perasaan itu pada orang yang kita cintai, sebab mana kita tahu bahwa dia telah dimiliki orang lain? Kalau tidak segera bisa-bisa diambil orang. Nah ini juga penting, yaitu menunggu!

Kue Pukis

Hembusan angin itu membuat kabut yang ada di sekitarnya semakin memudar, samar-samar aku bisa melihat wajahnya. Badannya tinggi, kulitnya putih, kelihatannya china gitu, oh pasti ganteng.
“Lady!” Suara itu terdengar meneriakiku, saat aku akan berusaha mengejarnya tapi entah tiba-tiba awan hitam ada di atas kepalaku dan hujan pun turun.
“Lady, bangun!” Sontak aku bangun dari tidurku dan aku basah kuyup sebab mamaku menyiramku dengan air.
“Ma, apa apaan sih?” Aku pun marah pada mamaku.
“Kamu nggak sekolah?”
“Karena nggak sekolah makanya aku tidur ma!” Mamaku terlihat bingung, dan ia pun memberikanku senyuman dengan gigi yang meringis.
“Maaf sayang,” Hah, ternyata mama lupa kalau ini hari Minggu, padahal aku penasaran siapa orang itu. Coba saja mama tidak membangunkanku pasti aku sudah bisa melihat sosok yang sering datang dalam mimpiku itu. Melihat tubuhku yang basah kuyup aku pun menuju kamar mandi pastinya untuk mandi masa tidur lagi? Setelah selesai mandi ku lihat ponselku dan tak ada pesan untukku.
“Mending aku jalan-jalan aja deh,” Aku pun mengambil sepatuku dan bergegas meninggalkan rumah.
“Dy, mau ke mana?” Tanya mamaku.
“Jalan-jalan,”
“Nih, mama titip ya.” Mama memberiku sebuah keranjang yang isinya daftar belanjaan, ya mama menyuruhku belanja.
“Yah, mama.” Aku pun berangkat dengan wajah lesu, berangkat niat jalan-jalan ketemu temen malah disuruh ke pasar. Dengan langkah yang sangat berat aku berlari menuju pasar.
“Pukis, pukis!” Wah ada yang jualan kue pukis, kue itu adalah kue kesukaanku. Langsung aku menuju abang yang berjualan kue pukis, lalu membeli kue pukis seharga tiga ribu dolar, nggak kok rupiah.
“Bang bikin kue pukis gimana sih?” Tanyaku pada abang yang berjualan kue pukis.
“Gampang bahan-bahannya…..” Abang itu pun menjelaskan bahan dan cara membuat kue pukis, aku langsung mencatatnya dan bergegas membeli bahan-bahannya.
“Pak, terigunya satu kilo, gulanya seperempat….” Dengan semangat 45, aku membeli bahan-bahan, dan berusaha menawar sebisa mungkin walau nggak berhasil -_-“
“Capeknya, uangnya tinggal lima puluh ribu. Kenapa sisanya banyak banget ya? Oh, iya aku ke sini kan mau belanja! Ah dodol!” Aku pun membaca dengan cermat daftar belanjaan, ada kangkung, jeruk, labu siam, bayam, sirup, garam, jahe, waduh bejibun dah. Mati deh, mana cukup kalau cuma lima puluh ribu? Dengan cepat aku mencoba membeli semua pesanan mama.
“Garam berapa bu?”
“Dua ribu,”
“Lima ratus bisa bu?”
“Bisa, tapi dapatnya dikit nggak pakai tempat.”
“Okelah,” Aku berusaha sebisa mungkin mendapatkan semua pesanan mama, walau aku tahu sesampainya aku di rumah pasti mama akan marah.
“Selesai, tinggal pulang!” Dengan bangga aku berjalan menuju rumah, di jalan aku bertemu Bella musuh bebuyutanku.
“Eh, Ladoy, dari pasar?” Biasalah Bella selalu mengejekku, dan itu sudah jadi makanan sehari-hari kami, yaitu saling mengejek.
“Yaiyalah Bellek, masa dari KUA?” Perlahan Bella menghampiriku, dan mengambil salah satu belanjaanku.
“Ladoy, gue minta gulanya ya!” Bella berlari mengelilingi diriku sambil membawa, tapi aku terus berjalan dan tidak peduli dengan apa yang diperbuat Bella.
“Ladoy, beneran nih buat gue?”
“Ambil aja, orang itu buat bu Dea, tadi bu Dea nitip gula ke aku. Kalau gulanya nggak ada tinggal bilang deh kalau yang ngambil Bellek pasti bu Dea ngamuk.” Bella langsung mengembalikan gulaku (bukan merek gula, tapi maksudnya milikku), kemudian pergi. Memang permusuhan aku dan Bella tidak sampai seperti kucing dan tikus melainkan hanya sebagai teman berantem aja, kalau sahabatan juga bisa sih.
“Lady, pesenan mama ada semua?” Bukannya nanya kabar, dateng-dateng malah ditanyain belanjaan, dasar si mama.
“Ada ma, tapi alakadarnya.” Aku pun menyerahkan keranjang berisi belanjaan pada mama.
“Satu.” Mama masih tersenyum melihat belanjaanku lengkap.
“Dua.” Mama mulai bingung melihat ada barang yang tidak utuh lagi.
“Tiga.”
“Lady!” Mama menjewer telingaku, sambil menunjukkan belanjaanku.
“Apa apaan ini? Garam cuma satu sendok makan, jeruk satu buah, labu siam setengah, bayam satu ikat mana dikit banget, sirup cuma satu botol minyak kayu putih yang kecil, aduh sayang uangnya ke mana?” Ku dengar celotehan mama dengan sabar, dan kepala tertunduk.
“Buat beli bahan kue pukis ma,”
“Sebagai ganti kamu harus membuat kue pukis!” Nah, hukumannya enak banget nih, aku jadi bisa nyoba gimana caranya bikin kue pukis. Aku pun bergegas ke dapur dan mencoba membuat kue pukis sesuai cara yang telah diajarkan oleh abang tukang kue pukis.
“Mami, this is it kue pukis ala chef Lady!” Kataku sambil menunjukkan sepiring kue pukis.
“Gayamu Lad, pakek bahasa Inggris. Enak nggak ni?” Mamaku pun mencicipi kue buatanku sedikit demi sedikit lama-lama ketagihan.
“Enak banget, Lad. Bikinin lagi dong.”
“Ehm, tapi lunas ya hutang aku ke mama?” Mama hanya mengacungkan ibu jarinya, dan aku kembali ke dapur. Tak lama aku telah kembali ke hadapan mama.
“Mama udah kenyang, Dy. Kamu jual aja deh, itu kuenya lumayan buat ganti uang mama tadi.”
“Bilang aja suruh ganti uangnya,” Mamaku hanya meringis dan memberiku sebuah tampan yang beralaskan Koran, aku pun hanya menurut tidak bisa membantah.
“Kue, kue!” Sedikit demi sedikit teriakanku memanggil para tetangga untuk mencicipi kue buatanku tapi bayar. Wajah mereka memperlihatkan bahwa kue buatanku ini enak, jadi mereka membeli lagi, malah mengajak yang lain ikut beli.
“Sisa dua ni,” Kataku sambil melihat tampanku berisi 2 kue yang masih hangat. Sambil menunggu pembeli aku pun tidur di trotoar.
“Kak, saya lapar kak.” Seorang adik kecil meminta-minta padaku, aku pun memberikannya semua kue yang tersisa itu, lalu adik itu berterima kasih dan pergi.
“Kue! Beli kue!” Terdengar ada yang meneriakiku, dan perlahan terdengar suara kaki yang mendekatiku.
“Mbak, kue dong!” Sekarang dia memegang bahuku, dan saat aku berbalik.
“Bella?” Ternyata Bella, ku pikir siapa.
“Lady? Jadi kamu yang jualan kue?”
“Iya, kenapa? Nggak suka!”
“Kue kamu nggak enak.”
“Ngapai mau beli?”
“Biar yang lain nggak keracunan!” Bella pun pergi, sepertinya dia gengsi kalau disuruh membeli kueku. Kan dia musuhku. Aku pun berjalan pulang menuju rumah, dengan membawa nampan kosong. Tak terasa ada yang menepuki bahuku.
“Katanya nggak mau beli.” Tangan itu terus menepuki bahuku.
“Bella, maumu apa sih?” Aku pun berbalik badan, dan ternyata…..
“Kenalin aku Ed….”
“Lady, bangun!”
“Apa?” Seorang ibu-ibu ternyata membangunkanku.
“Kamu tuh ketiduran gara-gara nunggu dagangan kamu abis. Ini ibu mau beli.” Ternyata cuma mimpi, ku kira beneran. Setelah itu aku berjalan menuju rumah dan memberikan uang hasil penjualan kue pukisku pada mama. Dan menuju tempat tidurku. Aku berpikir kenapa setiap aku tertidur pasti aku bermimpi tentang cowok yang sangat misterius, dan baru kali ini aku bisa melihat wajahnya begitu jelas. Sambil berbaring aku mencoba beristirahat dan akhirnya tertidur.
“Siapa ya nama cowok itu? Dia bilang, Ed. Tapi pasti ada terusannya, Edmun, Edfang, Edi, atau bahkan Edan? Ah, apa sih tandanya?” Batinku saat aku setengah terlelap. Hampir pukul 7 terdengar ada yang mengetuk pintu kamarku, dan aku membukanya.
“Ada tamu buat kamu, Lad.” Siapa? Apa Bella, yang mau membeli kueku? Dengan perasaan penasaran aku menuju ruang tamu, dan aku melihat sesosok lelaki tampan yang sama dengan yang ada dalam mimpi kue pukisku.
“Kamu? Cowok kue pukis kan?” Kataku sambil menunjuk ke arahnya.
“Aku Edgar, teman TK kamu, ingat kan?” Aku pun mengingat-ingat nama Edgar dalam folder TK, dan kutemukan itu.
“Edgar, yang suka ngajak aku main kembang api, dan kue pukis ya?” Edgar mengangguk, dan aku pun memeluk erat dirinya. Sekarang Edgar sangat tampan, dank arena dia aku jadi sangat suka dengan kue pukis.
>>Flash Back
“Lady, kalau kamu bisa buat kue pukis ini aku bakal jadi pacar kamu.” Kata Edgar waktu itu.
“Bener? Tapi sampai kapan aku bisa buat kue ini?”
“Sampai aku datang kembali.” Edgar mencium pipiku, dan itu pertemuan kami di hari imlek yang cerah itu.
>>Back
Saat itu Edgar pindah ke Singapore untuk sekolah, karena orang tuanya di pindahkan bekerja di sana. Sudah hampir 6 tahun aku tidak bertemu Edgar, dan aku sangat merindukannya. Aku sangat bahagia, mungkin sebab kue pukis itu Edgar benar-benar datang.
“Tunggu!” Semua menatapku, dan aku mencubit pipiku sendiri.
“Aduh!” Jeritku kesakitan.
“Ini bukan mimpi Lady.” Edgar mendekatiku dan kembali mencium keningku, pipiku pun merah merona. Mama hanya menatapku tajam, seperti akan ngamuk setelah Edgar pergi. Aku dan Edgar saling bertukar cerita, tak lupa aku bercerita tentang mimpiki yang semuanya adalah Edgar, juga Bella musuhku.
“Eh, aku mau nyoba kue pukis buatan kamu dong.”
“Beli bahannya dulu ya.” Edgar memegang erat tanganku, menuntunku di dalam kegelapan dan menuju sebuah cahaya lampu yang terang.
“Bang, beli ini.” Aku pun memberi daftar belanjaan ke abangnya, selagi menunggu Edgar membeli kembang api yang ada di sebelah kios tempat kami membeli bahan kue pukis. Kilauan lembut kembang api selalu menyejukkan hatiku, baru kali ini aku melihat kembang api bersama Edgar setelah 6 tahun aku menunggunya. Terdengar bisikan memanggilku, dan aku tidak memperdulikan itu dan tetap melihat kilau kembang api yang sangat indah.
“Adek! Woy!” Abang itu ternyata dari tadi memanggilku, dan aku langsung mengambil belanjaan dan memberi sejumlah uang. Setelah itu kami berdua menelusuri jalanan dengan kilau kembang api yang kami pegang.
“Edgar, aku ingin persahabatan kita tidak seperti kembang api ini.”
“Persahabatan? Apa kamu tidak berharap lebih? Aku datang ke sini karena ingin mengatakan isi hatiku, dan menebus janjiku bahwa saat kamu sudah bisa membuat kue pukis maka aku akan jadi pacarmu, mau kan?” Aku mengangguk, dan Edgar bersorak gembira kemudian memelukku, tak pernah ku sangka kue pukis ini membuat aku seberuntung ini bisa memiliki Edgar.

Sunset Yang Dinanti

Sang raja mentari telah tegap menampa kkan kehebatannya, sambil melihat dua anak yang asyik bermain. Mereka adalah Agni dan Ify, mereka asyik main lompat tali di lapangan diantara anak-anak lain. Ada yang bermain bulu tangkis, sepakbola, petak umpet, dan lain-lain.
“Ify, ayo main sepakbola!” Ajak Agni pada Ify, Agni memang anak yang tomboy sedangkan Ify anak yang pemalu dan feminim. Tapi perbedaan yang sangat mencolok itu malah membuat mereka tetap selalu bersahabat.
“Nggak, Ni. Mending kita main lompat tali lagi.” Agni hanya bisa mengangkat bahu, Agni memang selalu mengalah sebab jika kemauan Ify tidak dituruti pasti Ify akan menangis dan Agni yang disalahkan. Permainanpun terus berlanjut, mereka baru pulang saat cahaya mulai redum, dan sebelum pulang mereka melihat dulu sunset yang indah.
“Ni, kalau nanti kita sudah besar kita harus tetap bersama ya, dan melihat sunset ini bersama lagi dengan pasangan hidup kita juga anak-anak kita.” Tutur Ify lembut pada Agni, Agnipun mengangguk dan tersenyum pada Ify.
***
“Agni, maaf aku terpaksa ikut papa ke Amerika. Aku janji akan menemui kamu lagi, dan kita akan melihat sunset itu lagi.” Itulah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Ify, dan Agni memeluk Ify untuk terakhir kalinya.
“Agni, kalau kamu tidak betah tinggal bersama mama kamu, telepon papa dan papa akan menjemputmu lalu membawamu bersama papa.” Agni mengangguk, tapi di dalam hatinya Agni merasa sedih sekali melihat kedua orang tuanya bercerai.
“Ify, selalu hubungi Agni ya. Agni pasti bakal nepatin janji kita!” Mereka berpelukan kembali dan mereka terpisah oleh jarak yang sangat jauh.
“Ma, mama janji kan sama Agni?”
“Iya sayang, mama pasti selalu ada buat adek.” Anak dan ibu itupun berpelukan lalu berjalan menuju tempat parkir dan menuju rumahnya.
Selama perjalanan Agni terus bernyanyi lagu Pergilah Kau. Dan mamanya hanya bisa tersenyum melihat anaknya begitu bahagia pagi itu. Agni, sebenarnya sangat membenci Ify sebab Ify adalah saudara tirinya. Jadi mama Agni itu janda yang mempunyai anak dua yaitu Agni dan Gabriel, tapi sekarang Gabriel tinggal bersama papa kandungnya. Sedangkan Ify adalah anak tunggal. Agni dan Ify seumur, dan papa Ify selalu mengagungkan Ify.
“Sayang, kamu mau nggak ketemu Gabriel?” Agni terdiam, dia kemudian mengangguk. Maka mamanya membanting setir menuju Bandung. Agni sangat menikmati perjalanannya, ia juga sangat senang bisa bertemu dengan kakak kandungnya yang sudah 8 tahun tidak bertemu. Setelah menunggu sekitar dua jam akhirnya Agni sampai di sebuah rumah yang megah dan mewah.
“Mas, untung kamu sudah pulang. Ini aku bawa Agni.” Bapak itu memeluk Agni dengan sangat erat, lalu mengajaknya masuk ke dalam rumahnya.
“Agni, ini kakak kamu Gabriel.” Cowok itu memberi senyumannya, tapi Agni terlihat acuh.
“Kalian main saja dulu.” Mama Agni menyuruh kedua anaknya bermain.
“Punya bola basket nggak?” Tanya Agni dengan sedikit tengil.
“Punya, emang lo bisa main basket?”
“Ya bisa dong, gini-gini juara basket di sekolah. Ayo kita tanding!” Mereka pun bergegas menuju pekarangan rumah itu dan memulai pertandingan. Pertandingan itu sangat seru, sampai Agni mengangkat tangannya dan menyerah pada Gabriel. Ia mengakui bahwa kakaknya sangat jago bermain basket. Dan dimulai dari pertemuan itu Agni menyimpan rasa suka pada Gabriel.
“Agni, aku dengar kamu punya saudara ya? Yang namanya Ify.” Merdengar itu perasaan Agni mulai memanas.
“Kenapa sih kamu nanyain Ify? Nggak penting tahu nggak!” Agni bergegas pergi dan menghampiri mamanya lalu mengajaknya pulang.
“Kami pamit pulang dulu ya.” Sepanjang jalan Agni terus menggerutu, menjelek-jelekkan Ify di depan mamanya, mamanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian tiba-tiba Agni terbayang oleh wajah kakaknya, dan spontan ia meminta nomor handphonenya pada mamanya, lalu segera mengirim pesan pada Gabriel. Dan mereka saling mengirim pesan singkat, dan Agni semakin merasakan bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada saudaranya sendiri.
***
Hubungan Gabriel dan Agni makin dekat, dan mereka sering bertemu sebab sekarang Agni sering menginap di rumah Gabriel jika hari libur tiba. Gabriel juga merasa tidak terganggu sebab Agni sangat asyik untuk diajak bermain, tapi Gabriel tidak sama sekali merasa sesuatu yang lebih pada Agni. Dan rasa itu terus berlanjut sampai masa SMA.
“Dek, gimana hari pertama kamu sekolah?” Tanya Gabriel pada Agni yang baru kali ini menginjakkan kakinya di SMA yang sama dengan Gabriel.
“Biasa aja, kakak nanti aku mau dong bisa masuk OSIS.” Gabriel hanya mengacak rambut Agni lalu mengajaknya jalan-jalan. Ternyata Agni di ajak ke sebuah lapangan, yang di sana sedang ada sunset. Sepintas Agni teringat pada Ify, tentang janji mereka lima tahun yang lalu. Tapi Agni tidak menghiraukan ingatannya itu, sebab bagi Agni tanpa Ify adalah hal terbaik sedunia.
“Dek, kamu tahu nggak? Dulu aku pernah bertemu seorang cewek dia kayaknya seusia sama kamu. Kita dulu saling berjanji bahwa akan bertemu lagi disaat sunset yang entah kapan itu.”
“Siapa dia kak?”
“Dia bilang namanya Ify, dan aku pikir dia saudara kamu.” Agni lagsung menatap tajam Gabriel, seolah ia ingin berkata bahwa ia tidak mau membahas tentang Ify lagi!
“Kak, asal kakak tahu ya, Ify itu penghancur hidupku!”
“Apa maksud kamu?”
“Karena dia aku selalu dimarahin papa, dia tuh orangnya manja. Aku selalu ngalah, kalau nggak dia bakal nangis dan ngadu ke papa, sampai aku sering dimarahin sama papa!” Agni pun berlari lalu masuk ke dalam mobil, dan meluapkan kemarahannya dengan menangis.
“Dek, kamu kenapa nangis?”
“Kenapa? Kakak masih nanya? Hati kakak dimana? Dasar nggak punya perasaan!” Gabriel tambah bingung, ada apa dengan adiknya, dan akhirnya mereka pulang. Selama perjalanan Agni tak henti-hentinya menangis.
Pergilah kau…
Pergi dari hidupku…
Bawalah semua rasa bersalahmu…
“Dek, kenapa kamu nyanyi lagu itu?”
“Ih, kakak itu bodoh, atau aku yang terlalu pinter? Sampe kakak nggak bisa membaca perasaanku?”
“Ngeledek lo, dek? Ya udah gue ngaku bodoh, sekarang cerita sama gue yang jelas.”
“Ify, dia merebut kasih sayang papa yang sangat aku inginkan. Dia sangat manja, semua hidup papa selalu ada untuk Ify dan tidak untuk aku. Papa selalu memarahiku jika Ify menangis, sekalipun Ify menangis gara-gara temannya. Aku selalu mengalah pada Ify, jika tidak maka ia akan menangis dan aku yang jadi sasaran untuk dimarahi oleh papa. Dan sekarang rasa benci itu kembali muncul setelah lima tahun aku mencoba melupakannya.”
“Apa yang menyebabkan kamu kembali membencinya?”
“Sebab…” Agni menggantungkan kata-katanya, dan membuat Gabriel penasaran.
“Terusin.”
“Karena orang yang aku cintai, ternyata sudah lebih dulu merebutnya.” Seketika Gabriel menghentikan laju mobilnya, lalu menghadap ke arah Agni.
“Maksud kamu?”
“Kak, kamu terlalu bodoh untuk mengenal cinta. Apa kamu tidak sadar, bahwa aku sangat mencintai kakak. Tapi, Ify juga merebutnya!” Gabriel menggaruk kepalanya, ia bertambah bingung, lalu ia menjalakan kembali mobilnya. Sesampainya di sana Agni berlari memasuki kamarnya. Gabriel menyusul Agni, ia benar-benar tidak paham dengan sikap Agni.
“Dek, maksud kamu Ify merebut aku dari kamu apa?”
“Kakak bilang, bahwa kakak punya janji pada Ify bahwa kakak berjanji pada Ify untuk menemuinya disaat sunset. Berarti kakak sudah punya janji khusus sama Ify, iya kan?”
“Iya, dek. Kakak ingin menyatakan perasaan kakak saat pertama kali bertemu dengannya. Mau kan kamu bantu kakak?”
“Ih, dasar cowok bodoh!” gumam Agni sendiri.
“Iya, iya kakak bodoh.”
“Kok kakak bisa kenal Ify?”
“Kamu tahu kan di dekat lapangan tadi ada rumah sakit? Nah, di sana aku bertemu Ify. Katanya Ify operasi gitu.” Agni tersentak kaget, ia berpikir Ify sebenarnya sakit apa? Lalu ia menghampiri mamanya yang sedang menerima telepon.
“Ma, Ify pernah sakit apa?”
“Apa sayang? Nanti Ify pulang, jemput dia ya…” Agni tertunduk, kemudian ia mengangguk lalu menghampiri kakaknya. Ia berpesan agar esok ia menjemput Ify di bandara dan mengajaknya melihat sunset lalu menyatakan perasaannya pada Ify.

“Ify, aku kangen sama kamu!” Agni memeluk Ify dengan erat dan mencoba menepis segala kebenciannya selama ini.
“Ni, maaf ya aku belum pernah jujur sama kamu. Sebenarnya aku ikut papa karena aku harus operasi, aku terkena kanker otak, Ni.” Agni semakin kaget, ia tak menyangka ternyata selama ini Ify mengidap penyakit yang bisa dibilang berbahaya.
“Ify, maafkan aku juga selama ini aku telah membencimu sebab papa selalu membanggakan kamu, membela kamu, menjadikan kamu nomor satu.”
“Iya, Ni. Aku sadar kok, aku memang yang salah.” Kemudia Ify mengobrol sebentar dengan Gabriel, lalu menuju lapangan tempat sunset yang indah itu. Sesampainya di sana Agni memulai perbincangan.
“Kak, aku sebenarnya suka sama kamu. Tapi aku sadar bahwa kakak suka sama Ify, jadi aku rela melepaskan kamu buat Ify. Kamu mau kan kak?” Gabriel menatap mata Agni tajam, seolah ingin membaca pikiran Agni selanjutnya.
“Ify, aku sangat mencintaimu sejak pertama kita bertemu di rumah sakit, dan rasa it uterus tetap bertahan hingga detik ini. Maukah kamu menjadi pacarku?” Ify menatap Gabriel dan Agni bergantian lalu mengangguk mantap, Gabriel pun berloncat senang dan memeluk Ify dengan erat.

Sunset itu telah menjadi saksi Gabriel dan Ify pacaran, dan Agni sebagai sahabat mereka. Dan Agni lebih memilih ia melihat sahabat dan saudaranya bahagia, daripada melihat ia bahagia sedangkan saudara dan sahabatnya harus merasa sedih. Tapi Agni selalu berusaha agar ia selalu tersenyum walau perih adanya.

3 Hari Untuk Dempo

Sepulang kuliah siang ini aku kembali menjaga ibu yang sedang di rawat di rumah sakit. Beberapa hari terakhir kondisi ibu mulai menurun akibat diabetes yang dideritanya. Ini juga karena ibuku yang bandel makan durian yang mengakibatkan badannya menggigil dan gula darahnya naik. Aku menunggu dengan setia Trans Musi di Halte Bukit, berharap busway itu cepat datang, ingin segera menyuapi snack sore ibu. Sembari menunggu aku mengedarkan pandangan, melihat banyak orang berlalu lalang menggunakan kendaraan, saling salip untuk segera menuju ke tempat tujuan masing-masing. Ada juga orang-orang yang memilih berjalan kaki, hati-hati menyebrang kemudian ikut masuk ke dalam halte. Menunggu busway sepertiku. Orang ini lagi. Aku tersenyum saat pandangan kami beradu. Tiga hari terahir kami saling melempar senyum.

“Hari ini hari terakhir ayah kakak dirawat, kan?” Ucapku memastikan. Hebat, ini pertama kalinya aku memulai percakapan! Pembahasan kami selama bertemu, saling menanyakan kabar orang yang kami jaga, kadang juga hal lain. Sekilas terlihat akrab, padahal namapun kami tak saling tahu. Dia yang selalu memulai percakapan (kecuali tadi), tapi ya seputar ibu saja, tentang aku tidak pernah ia tanyakan sama sekali. Kadang aku cemburu ibu malah lebih banyak dapat perhatiannya. Tunggu, cemburu? Apa ini bisa dikategorikan cemburu?

Dia mengangguk menanggapi pertanyaanku tadi, kemudian arah pandangnya menuju busway yang mulai mendekati halte. Busway kali ini penuh penumpang, hanya bisa memuat empat orang, dan dia mengalah mempersilahkan yang lain untuk naik lebih dulu. Termasuk aku. Pintu busway mulai menutup, ia duduk di kursi halte menatap arah kedatangan busway, tanpa mencoba menatap ke arahku. Padahal hari ini terakhir kami bertemu. Ayahnya sudah diperbolehkan pulang dan bisa rawat jalan, dia pasti tidak akan kembali menunggu busway di Halte Bukit. Pintu sudah tertutup sempurna dan bodohnya aku melupakan apa yang ingin aku tanya dan katakan padanya dihari terakhir ini. Bagaimana kelanjutan selain itu? Dan aku juga ingin ke Gunung Dempo!

“Kenapa? Kehilangan pria buswaymu itu?” Goda ibuku saat aku menyuapi kue jatah snack sore.
“Ah, ibu. Sudah nanti aku malah kepikiran terus,” aku berkilah mengambilkan air minum untuk ibu. Menahan sebentar pertanyaan-pertanyaan seputar pria busway itu. Saat aku menceritakan ketertarikanku pada dia, ibu hanya terkekeh. Heran anak zaman sekarang begitu mudah jatuh cinta. Padahal hanya bertemu tiga hari. Durasi pertemuan hanya selama jarak tempuh busway dari Halte Bukit sampai Halte Rumah Sakit Siti Khadijah. Yang diperbincangkan malah orang tua. Tak saling mengenal identitas jelas masing-masing. Aneh.

Aku telah masuk ke dalam busway. Pintu sudah hampir tertutup. Namun seorang pria langsung masuk dengan langkah lebarnya sepersekian detik sebelum pintu busway tertutup rapat. Dia menempelkan kartu buswaynya sampai mesin berbunyi ‘terima kasih’. Ia mengedarkan pandangan mencari tempat kosong, sayangnya tak ada tempat lagi untuknya. Aku dapat kehormatan menduduki kursi terakhir yang kosong. Dia berdiri dengan tangan kanan menggantung berpegangan. Tubuhnya tinggi hampir setinggi atap busway. Dengan setelan kaos, jeans, serta sepatu converse membuatnya terlihat seperti mahasiswa lainnya di kampusku. Tapi entah apa yang membuatku terus menatapnya selama perjalanan. Saat mulai dekat halte pemberhentian aku berdiri. Berdiri di dekatnya. Sekilas dia menoleh, pandangan kami beradu. Aku menundukkan kepala seraya menunjuk kursiku tadi.

“Oh, nggak apa-apa mbak,” ucapnya polos.
“Sebentar lagi saya turun kok,” dia tersenyum lalu duduk di kursiku tadi.
“Terima kasih,” lanjutnya saat dia telah duduk sempurna dengan intonasi suara seperti mesin taping kartu busway. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya.

Esoknya kami bertemu lagi. Kali ini dia tidak datang saat busway akan meninggalkan halte. Justru ia menunggu lebih dulu di halte. Saat aku memasuki halte dia menatapku kemudian tersenyum. Sadar bahwa kami dipertemukan kembali.

“Mau turun di Khadijah lagi, mbak?” Tanyanya padaku sembari menunggu busway datang.
“Iya, ibu saya dirawat di sana.” Jelasku singkat.
“Wah sama. Tapi ayah saya di rawat di Rumah Sakit Umum. Darah tingginya kumat.” Mulai darisitu perbincangan kami mulai melebar. Seputar ibuku dan ayahnya. Bercerita bagaimana darah tinggi ayahnya kambuh akibat menahan amarah pada anak muridnya yang bandel. Ayahnya yang sebenarnya pemaaf namun memendam banyak masalah. Terlalu banyak pikiran. Dia sampai capai membujuk ayahnya untuk sedikit membagi cerita tapi beliau enggan. Takut membebani keluarga, katanya.

Sebaliknya aku juga mulai bercerita tentang ibu. Bagaimana ibu bisa masuk rumah sakit. Seperti yang kuceritakan diawal. Kemudian saat aku mulai menikmati perbincangan kami busway yang kami tunggu (bahkan aku lupa sedang menunggu busway) telah datang. Untungnya kali ini busway lebih lengang, bahkan aku dan dia bisa duduk bersebelahan melanjutkan perbincangan kami yang tertunda. Dia menanyakan ruang rawat inap ibu, ingin menjenguk ibuku. Aku juga demikian. Menanyakan ruang rawat inap ayahnya, ingin menjenguk beliau juga. Esok hari saat aku akan berkunjung sebentar sebelum menjenguk ibu, dia malah melarangku.

“Besok ayahku sudah pulang kok, tidak usah dijenguk hehe.” Aku menunduk lesu.

“Sebagai gantinya aku ingin bercerita.” Mendengarnya aku langsung memandang ke arahnya.

“Salah satu tempat indah di Palembang, mungkin kamu sudah pernah dengar. Tapi aku tidak pernah bisa berhenti mengucap syukur pernah berada di sana. Gunung Dempo. Memang tak sehebat Bromo atau Mahameru, tapi kebanggaan tersendiri kota kelahiranku masih punya satu. Jalan memang memakan waktu, tapi di awal kita disuguhkan hamparan kebun teh ditambah petani teh bercaping yang memikul keranjang untuk memetik daun teh. Waktu itu aku sempat membantu petani setempat, pengalaman yang seru. Mendaki trek yang memang tak begitu sulit, tapi bersama para sahabat aku menikmati lukisan hijau di bawah gunung, itu jadi momen indah tersendiri. Udara yang menusuk tulang membuatku ingin segera mencapai puncak, menyalakan api unggun, menghangatkan diri, kemudian menikmati kembang api dari atas sana. Sayang bagian terakhir belum tercapai, kami harus segera turun karena salah satu teman kami asmanya kambuh akibat terlalu lelah. Mau tak mau kami harus mengantarnya pulang. Selain itu,” ceritanya terhenti. Aku sudah sampai di Halte Khadijah, padahal aku ingin mendengar kelanjutan dari selain itu. Esokpun ternyata aku tak punya kesempatan lagi.

“Sangat ingin ke sana?” Tanya ibuku usai kuceritakan dia yang memamerkan sedikit kendahan Gunung Dempo. Aku mengangguk pelan.

“Ingin ke sana atau ingin bertemu pria itu?” Aku tertegun, tak menyangka ibuku malah punya pikiran lain.

“Mustahil ibu bertemunya lagi, hari ini ayahnya sudah pulang. Tak mungkin bertemu, kami kan tidak pernah janjian untuk ke sana bersama.” Ibu tersenyum mendengar teoriku.

“Apa kalian janjian untuk bertemu di halte busway?” Aku terdiam. Ibu benar.

“Kalau Tuhan memang berkehendak mempertemukan kalian di halte busway, bukan hal yang mustahil untuk mempertemukan kalian di tempat lain. Besok, lusa, atau kapanpun Tuhan ingin.” Ibu mengusap tanganku lembut. Mengalirkan keyakinan yang tersirat dalam kehangatan usapannya. Ibu yang paling mengerti aku.

“Sekalipun kalian cuma bertemu tiga hari di halte, bisa jadi kalian akan bertemu setiap hari di rumah kalian nanti,” ibu kembali menggodaku. Aku tahu maksud ucapan ibu. Kelak aku akan menikah dengannya, dan kami akan setiap hari bertemu. Semoga saja begitu.

Genap seminggu ibuku sudah diperbolehkan pulang. Dengan syarat menjaga pola makanan dan menghindari makanan manis. Tentunya aku membantu ibu membuat jadwal makan dan ikut mengontrol agar asupan gizi yang ibu konsumsi pas. Kondisi ibu mulai membaik, sudah kuat berjalan sendiri walau pelan. Ini juga kehendakmu Tuhan, mengizinkan aku merawat ibuku. Merasakan sedikit yang ibu lakukan padaku saat aku sakit dulu waktu kecil.

“Ibu sudah bisa sendiri, ibu juga ingat takaran makan. Sudah cepat berangkat kuliah, jangan sampai bolos mata kuliah.” Aku pamit pada ibu, menuju halte busway terdekat dari rumahku. Halte busway lagi. Aku selalu teringat sosok singkat itu. Sebentar namun begitu melekat dalam benakku. Setiap hari aku selalu berharap bertemu dengannya di halte atau di dalam busway. Sayang, Tuhan tidak menyusun naskah itu. Aku harus menunggu adegan lain, dengan dia, atau bahkan dengan pria yang lain.

“Jodoh tak kemana, berdoa pada Tuhan untuk memberikanmu yang terbaik. Dia bisa jadi salah satu kandidatmu, atau yang lain. Jangan terlalu dipikirkan.” Aku kembali terngiang nasihat ibu. Aku tak seharusnya terus memikirkan dia. Tuhan sudah mempersiapkan satu untukku. Entah dia siapa. Berapa jaraknya dariku. Bagaimana kami bertemu. Tenang Reika, semua akan baik-baik saja.

Kegiatan kuliah akhir-akhir ini membuatku sibuk setengah mati. Tugas yang menyita waktu. Dengan deadline yang berdekatan sukses menyingkirkan pikiranku tentang dia. Akhir-akhir ini aku juga menumpang pulang-pergi kampus dengan teman sejurusanku. Bersama Luika, Ima, dan Rere yang merupakan teman satu komplek, kami menumpang mobil Fiona. Ini mendukung keinginan pemilik mobil untuk mengurangi polusi. Sebenarnya ini juga yang membuatku lebih menghemat ongkos dan tidak terlalu sering memikirkan dia, karena tak bertemu dengan halte atau busway lagi.

Disamping berhasil mengalihkan pikiranku, aku juga berhasil mendapat teman-teman yang baik. Siapa lagi kalau bukan ‘Go Go Car’. Genk yang isinya cewek-cewek penghuni setia mobilnya Fiona. Kami sering bertukar cerita selama perjalanan menuju atau pulang kampus. Mulai dari mata kuliah sampai masalah pribadi. Suasana mobil tak pernah ada matinya. Fiona, cewek pemberani yang punya aura kepemimpinan, selalu menengahi saat kami saling kata. Ima, cewek cerewet yang suka mengkritik salah satu tingkah kami yang dinilainya salah. Rere, cewek polos yang apa adanya, dia suka mengungkapkan apa saja yang ada dipikirannya tanpa berpikir panjang. Luika, cewek humoris yang selalu melempar candaan saat mobil sedang hening. Selain pulang-pergi bersama, saat ada waktu senggang kami pergi nonton atau karaoke bersama. Melepaskan sejenak urusan kuliah sejenak.

Sialnya aku kembali berharap bertemu dia setiap kami menghabiskan waktu senggang. Siapa tahu dia juga sedang berlibur. Pikirku. Sayangnya hal itu tak pernah terjadi, sekalipun aku tak pernah menemukan orang yang sama dengan pria waktu itu. Dengan sosoknya yang masih bergelayut di otakku.

“Nyari siapa sih, Ka?” tanya Ima padaku atau pada Luika? Aku diam saja dan tetap menyapu pandangan ke sekitar, menyangka yang Ima tanya itu Luika.

“Nyari siapa, Reika Desyuan?” ulangnya sambil menyebutkan nama lengkapku dengan penekanan tiap suku katanya.

“Nggak kok, Im.” Aku menunjukkan deretan gigi-gigi putihku padanya.

“Pulang nonton harus cerita!” Ima menatapku tajam dengan tatapan kamu-harus-ceritakan-semuanya. Padahal aku tak ingin membagi kisahku bagian ini pada mereka. Tak penting. Dan tak akan mengubah apapun kalau aku ceritakan, kan? Aku tetap tak akan bertemu dengannya. Memendam masalah. Oh, aku kembali teringat ayahnya. Semoga beliau selalu diberi kesehatan.

Usai menonton film, Ima langsung ingin minta pulang. Pasti ingin segera mendengar ceritaku, ya? Apa tingkahku tadi salah dimata Ima? Fiona tak keberatan memenuhi permintaan Ima, yang lain juga tak berkomentar. Padahal biasanya kami makan dulu. Ima tersenyum lebar berjalan menuju parkiran.

“Ayo cerita kamu tadi nyari siapa?” Tanya Ima langsung saat kami sudah berada dalam mobil. Sisanya menatapku heran.

“Maksud kamu, Im?” Rere yang tak mengerti duduk permasalahannya meminta penjelasan terlebih dahulu.

“Kalian ngerasa nggak sih, tiap hangout pasti Reika ada di belakang. Dia terlihat mencari seseorang.” Jelas Ima. Aku tak menyangka Ima sebegitu perhatiannya padaku.

“Iya sih, Reika selalu paling belakang kalau kita jalan. Sampai aku pikir dia bakal hilang. Haha ” Luika mengiyakan sembari tertawa.
“Coba cerita, Rei. Sepertinya itu mengganggumu.” Fiona membujukku. Khusus Fiona aku tak bisa menolak permintaannya. Aku menghela nafas panjang kemudian mulai bercerita. Mulai dari pertemuan tiga hari kami, percakapan, sampai keinginanku untuk ke Gunung Dempo, keinginan untuk menemukannya kembali. Juga tentang sekeras apapun aku berusaha napak tilas, tetap tak kutemui pria itu.

“Kamu nggak nanya namanya? Kuliah di mana? Alamatnya di mana? Sudah punya pacar belum?” Ima langsung menghujani dengan banyak pertanyaan.

“Bukannya harusnya cowok yang duluan?” Jawabku berdasarkan teori pendekatan yang kubaca dinovel-novel percintaan.

“Bener itu! Kalau cowoknya aja nggak berani duluan, bisa jadi dia nggak serius.” Ucap Fiona dengan penuh keyakinan.

“Bisa jadi dia nggak suka sama Reika.” Skak! Kata-kata Rere yang meluncur begitu saja telah tepat menghancurkan harapanku pada dia. Rere benar, bisa jadi dia memang tak menaruh hati padaku. Apalagi kami hanya bertemu dalam jangka tiga hari. Hanya orang bodoh yang bisa sebegitu suka pada seseorang yang baru ia kenal. Dan itu aku. Ah, Reika bodoh!

“Reika jangan sedih lagi, kalau jodoh pasti bertemu,” Luika memelukku dari samping. Pasti ia ingin aku baik-baik saja.

“Re, lain kali jangan ngeluarin kata pematah semangat ya!” Ima mengingatkan. Yang dibicarakann hanya terkekeh baru menyadari kata-katanya tadi memang sedikit menyakitkan. Lalu ikut memelukku. Sedangkan Ima dan Fiona hanya bisa menyemangatiku dari kursi depan.

Memasuki masa ujian aku makin serius belajar. Belajar untuk ujian dan belajar untuk melupakan pria itu. Obrolan GGC pun berubah menjadi seputar ujian dan materi-materinya. Kami jadi serius sekali selama perjalanan. Menuju kampus membahas materi yang kami rasa kurang jelas. Sepulang perjalanan membahas ulang soal-soal ujian. Begitu seterusnya sampai akhir ujian. Dan tepat usai ujian topik dalam mobil berganti.

“Liburan mau kemana?” Tanya Fiona. Kami berpandangan.

“Gunung Dempo!” Teriak kami serentak.

“Sekalian tahun baruan pasti seru!” Ima terlihat antusias.

“Kebetulan aku punya saudara di Pagaralam, menyewakan villa dekat sana. Ku rasa kita bisa bermalam di sana.” Seisi mobil bersorak sorai. Terutama aku. Akhirnya aku bisa ke sana. Mewujudkan inginku, menautkan ikrarku. Janji bodoh memang. Kalau aku bertemu dengan pria itu lagi di sana, aku akan berjuang untuk mendapatkannya sebagai pasangan hidupku! Kalau tidak, berarti Tuhan berkehendak lain.

Aku menceritakan rencana GGC pada ibu. Tentunya beliau turut senang. Entah atas dasar apa ibu mengatakan bahwa aku akan bertemu pria itu. Ibu sampai senyum-senyum sendiri membayangkan pertemuan kami. Khayalan ibu memang tak ada duanya. Aku jadi ikut sumringah. Membayangkan betapa romantisnya bertemu dia di Puncak Gunung Dempo sambil menatap bintang beradu kembang api. Meneriakkan ikrarku. Menghilangkan gengsiku selama ini. Indahnya bermimpi.

Hari ini pengumuman nilai ujian. Aku mendapat IPK 3,4. Lumayanlah. Begitu juga dengan anak GGC lain, semua mendapat IPK diatas 3. Kami jadi lega untuk melangkahkan kaki menuju Gunung Dempo. Ini awal yang baik. Perasaanku sedang baik hari ini. Ingin cepat ke sana. Cepat berada di puncak.

Kami berangkat selepas subuh. Mematikan AC mobil dan membuka jendela mobil. Merasakan terpaan angin yang masih belum banyak mengandung polusi. Setiap dua jam sekali Fiona dan Ima bergantian mengemudikan mobil, karena hanya mereka berdua yang memiliki SIM. Sisanya tidur, melihat keadaan sekitar, sambil sesekali bertanya sudah sampai di mana kita.

Selama empat jam perjalanan aku masih terjaga, menatap terus ke luar jendela. Daerah ini aku tak tahu namanya, baru pertama kali melihatnya. Diam-diam aku melihat toko-toko di pinggir jalan, membaca nama toko sekaligus alamat di bawahnya. Lahat. Setelah bangunan-bangunan berpondasi terlewati, sisanya hamparan pepohonan hijau yang meneruskan sedikit cahaya matahari tak tak tertutup pepohonan. Hal seperti sangat jarang ditemui kota, hanya beberapa bagian saja yang tertutup pohon atasnya itupun hanya beberapa meter, seperti jalan di Kambang Iwak. Salah satu tempat yang sering dijadikan ajang perkumpulan beberapa komunitas seperti skaters, fixie, atau shuffle. Kadang tiap pagi aku jogging di sana, menyusuri jalan yang tertutup pohon, menikmati suasana asri di kota sepadat Palembang yang rasanya hampir setiap hari macet layaknya Jakarta.

Sempat aku lihat sungai yang mengalir di bawah kami. Melihatnya sampai ujung sanggup memandang. Airnya jernih. Terlihat jelas ada beberapa ikan yang melawan arus, beradu dengan derasnya aliran sungai. Begitu indah. Ingin rasanya mencelupkan kaki di sungai itu. Berbeda dengai Sungai Musi yang kulihat di bawah Ampera. Air di sana keruh, berwarna cokelat. Seandainya air Sungai Musi setransparan ini, mungkin sungai terpanjang di Pulau Sumatera itu telah menjadi duplikat dari Sungai Torne salah satu sungai terbersih di dunia yang berada di bagian utara Swedia dan Finlandia. Tak henti-henti aku mengucap syukur, takjum akan pemandangan sederhana yang memanjakan mata. Padahal baru sampai di.

“Kita sampai mana, Im?” Tanyaku karena lupa nama daerah ini.
“Lahat. Tinggal beberapa jam lagi. Sabar ya, Reika Desyuan.” Gadis berpipi chubby ini memang suka memanggil nama lengkapku. Unik, katanya. Reika artinya Keajaiban. Desyuan diambil dari kata Desember dan Januari, karena aku lahir diantara bulan itu. Ya, aku lahir tepat pukul 12 malam. Malam akhir dan awal tahun.

Aku kembali bergelut dengan pemandangan indah daerah Lahat. Angin serasa makin mengencang. Perlahan menggoda kelopakku untuk menutup. Aku kalah. Mataku terpejam sampai mereka membangunkanku.

“Bangun, Rei!” Gadis bersuara khas ini menggoyang-goyangkan tubuhku. Siapa lagi kalau bukan Fiona. Aku sudah hafal betul suaranya. Perlahan aku membuka mataku. Membiasakan intensitas cahaya yang masuk ke dalam indra penglihatanku ini. Aku mengedarkan pandanganku. Kebun teh di sudut kiri dan villa cukup besar di sebelah kanan. Jauh di depan ada sebuah gunung menjulang tinggi. Apakah itu Gunung Dempo?

Aku keluar dari mobil, membawa tas carierku ke dalam villa. Menggosok-gosokkan telapak tanganku untuk memberi sedikit kehangatan. Udara di sini begitu dingin, ditambah waktu berkunjung kami yang bertepatan dengan musim penghujan. Tak heran suhu udara di sini bisa dibawah 26 derajat celcius, selain memang karena berada di dataran tinggi juga karena dingin yang disisakan hujan.

Kamar kami ada di lantai dua. Ya, aku bersama yang lain satu kamar, walaupun masih banyak kamar kosong. Untuk mempererat jalinan pertemanan, kata Fiona. Kamar ini cukup besar, sangat besar malah. Ada dua kasur berukuran king size yang diantaranya dipasang karpet bulu dengan beberapa boneka. Di sudut kamar ada pintu untuk mengakses balkon depan. Dari balkon pemandangan yang terhampar kebun teh dan Gunung Dempo. Tentunya dengan jarak pandang lebih jauh karena ketinggian dari balkon ini. Sekilas aku melihat banyak pengunjung lain yang berjalan-jalan. Berfoto diantara pohon teh dengan pose merentangkan tangan. Setelah itu kembali memasukkan tangan ke saku jaket. Kedinginan.

Jam sudah menunjukkan angka satu. Kami juga merasa capai. Apalagi Fiona dan Ima yang sedari tadi mengemudi. Nanti malam kami juga harus mendaki, agar bisa berada di Puncak Gunung Dempo saat tahun baru. Artinya saat aku berulang tahun juga. Aku tak sabar menanti momen itu. Pasti itu akan jadi salah satu hal terindah dihidupku.

Aku bersama yang lainnya menelurusi jalan setapak. Trek pendakian tidak begitu sulit. Sejauh ini belum ada yang mengeluh, masih kuat mendakit dengan membawa carier berisi makanan instan dan keperluan lain seperti kotak P3K. Aku tersenyum senang jarak antara aku dan puncak makin menipis. Sesekali kami beristirahat kemudian mengabadikan detik itu dengan senyum merekah saat tombol shutter kamera ditekan. Kalau ada yang lewat kami minta bantuan untuk difoto berlima. Di jalan mendaki seperti ini sulit menggunakan tripod, tak ada bagian datar di sini. Sambil terus mendaki aku menikmati pemandangan sekitar. Semilir angin mengibaskan kerudungku. Dedaunan yang sudah berwarna cokelat jatuh, hinggap di atas kepalaku. Ku biarkan saja, biar angin yang membawanya. Biar perasaan ini juga angin yang membawanya. Kalau ia ingin, ia ia datang kembali. Kalaupun tidak aku juga ikhlas. Aku menyeka air mataku. Perasaanku akan segera kulepas jika saat dipuncak aku tak bertemu dengannya. Aku juga lelah terus mencari tanpa tahu siapa dia. Bagai mencari jarum dalam jerami. Yakin dia ada tapi tak kunjung kutemui, padahal aku sudah memegangnya, sudah pernah mengenalnya. Memang hanya tiga hari, tapi itu lebih dari cukup. Perasaan ini berkembang begitu saja.

Carier kami tinggalkan. Karena selanjutnya kami akan mendaki trek yang lebih sulit karena ini puncak hanya tinggal beberapa meter saja. Ayo, Reika lanjutkan langkahmu! Tiba-tiba gempa melanda. Aku panik. Teman-temanku meneriakan namaku. Begitu keras!

“Reika! Bangun!” Aku memaksa diriku bangun. Oh, itu cuma mimpi. Padahal sedikit lagi aku akan mencapai puncak kenapa malah dibangunkan?

“Cepat mandi, lekas turun ke bawah, kita makan, lalu berangkat!” Jelas gadis berkucir kuda ini padaku.

“Iya iya, Luika. Aku masih mengumpulkan nyawaku.” Aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Kemudian menunaikan setiap perintah Luika tadi. Tak perlu berlama-lama dan aku siap! Tapi tunggu, sepertinya ada yang kurang.

“Rere mana?” Tanyaku menyadari gadis polos itu tak ada diantarai kami.

“Dari tadi belum selesai mandi?”Fiona merespon. Kamipun menuju kamar memastikan keberadaan Rere. Dan kami sangat terkejut melihat Rere yang menggigil berselimut. Wajahnya pucat sekali. Sepertinya ia kedinginan.

“Rere nggak mungkin ikut ke puncak, badannya panas banget. Harus ada paling nggak satu orang yang jaga dia. Siapa yang mau nemenin Rere?” Kami diam. Bahkan Fiona yang tadi mengajukan tempat juga diam.

“Aku!” Semua menoleh ke arahku. Aku tahu pasti dipikiran mereka aku ini aneh. Menyia-nyiakan kesempatan yang aku tunggu. Menikmati tahun baru di Puncak Gunung Dempo. Menggantungkan harapan bertemu pria itu di atas sana. Ya, kesempatan bisa datang lagi kan? Aku juga tak mau membiarkan Rere yang sedang sakit sendirian begini.

Aku mengantarkan mereka sampai teras. Melepas kepergian mereka yang akan menikmati tahun baru di atas sana. Di tempat aku menaruh keinginan terbesarku. Sekarang aku malah berdoa dia tak ada di puncak sana. Ada di tempat lain saja agar aku tidak merasa sakit yang berlebih karena menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengannya. Aku hendak masuk ke dalam villa mengecek keadaan Rere yang tadi barusan aku kompres.

“Assalamualaikum.” Suara itu. Apakah aku bermimpi? Suara itu. Aku ingat benar suaranya. Suara pria itu. Aku masih membeku. Perasaan tak percaya masih menyisakan tanda tanya besar.

“Halo, kamu dengar saya?” Suara itu membuyarkan lamunanku. Aku berbalik kemudian menjawab salamnya tadi.

“Alhamdulillah kita bertemu lagi. Nggak ke puncak?” Tiap pertanyaan yang selalu aku rindukan. Kembali aku dengar. Aku ingin menangis saat ini juga.

“Teman aku sakit, aku harus menjaganya.” Oh tidak, aku mulai menitihkan air mata.

“Sebegitu sayangnya ya, sampai nangis begitu?” Bukan. Aku menitihkan air mata ini karena aku bahagia. Tak perlu sampai dipuncak aku telah dipertemukan secara ajaib dengan sosok yang selama ini aku cari. Ingin sekali aku berkata begitu tapi lidah ini terasa kelu.

“Mungkin ini terlalu cepat. Tapi aku ingin meminta alamat rumahmu. Ada yang ingin aku katakan pada orang tuamu.” Ini perasaanku saja atau memang dia ada maksud lain?

“Aku ingin melamarmu.” Duar! Kembang api dalam hatiku meletup begitu saja. Sungguh ini. Aku. Apakah aku bermimpi? Benarkah yang dia katakan? Air mataku makin menjadi. Dia menyodorkan sapu tangannya padaku.

“Aku merasa sangat bahagia. Tak pernah terpikirkan skenario sehebat ini telah dituliskan oleh Tuhan.” Dia hanya tersenyum. Senyum yang terasa sejuk saat kupandangi dalam tiga hari itu. Segala sikap baik yang ia tunjukkan walau sedikit sudah membuat hatiku mantap.

Kembang api penuh warna diikuti suara lantangnya. Menyinari puncak gunung yang terlihat indah dari teras villa ini. Dipadu hembusan lembut angin yang menggesek pucuk-pucuk pohon teh. Bintang berkelip seakan mengedipkan mata ke arahku. Meledekku yang sedang bahagia mendapat kabar semenakjubkan ini. Gunung Dempo jadi saksi yang indah. Tahun baru yang indah. Ulang tahun yang indah. Keanu. Dia yang terindah.