F. Manfaat Belajar Filsafat
Tujuan
filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran
berpikir), etika (berperilaku), maupun Metafisika (hakikat keaslian).
Manfaat
mempelajari filsafat ada bermacam-macam. Namun sekurang-kurangnya ada 4 macam
faedah, yaitu :
1. Agar terlatih berpikir serius
2. Agar mampu memahami filsafat
3. Agar mungkin menjadi filsafat
4. Agar menjadi warga negara yang baik
Belajar
filsafat merupakan salah satu bentuk latihan untuk memperoleh kemampuan
memecahkan masalah secara serius, menemukan akar persoalan yang terdalam,
menemukan sebab terakhir satu penampakkan.
Dengan
uraian diatas jelaslah bagi kita bahwa secara kongkrit manfaat mempelajari
filsafat adalah :
1. Filsafat menolong mendidik,
2. Filsafat memberikan kebiasaan dan
kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan- persoalan dalam hidup
sehari-hari.
3. Filsafat memberikan pandangan yang luas
4. Filsafat merupakan latihan untuk berpikir
sendiri
5. Filsafat memberikan dasar,-dasar, baik
untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu
pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi, Ilmu jiwa, ilmu mendidik, dan
sebagainya.
G.
Ruang Lingkup dan Kedudukan Filsafat Ilmu
Filsafat
ilmu adalah merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan
mengenai hakikat ilmu . Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan
implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu
sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan
ontologi.
1.
Epistemologi.
Epistemology (dari bahasa Yunani episteme
(pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang
berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan.
Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam
filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui
pengalaman.
b. Rasionalisme
Rasionalisme
berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena
rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling
dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran.
c. Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant
membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam
dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam
bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran.
Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu
seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang
menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
d. Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana
untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang
diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil
pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.
e. Dialektis
Yaitu tahap logika yang mengajarkan
kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide
untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan.
2.
Ontologi
Ontology merupakan salah satu kajian filsafat
yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan
sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang Hakekat kenyataan atau
realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan
apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan
apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti
misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan
sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.
Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme.
3. Aksiologi
Aksilogi merupakan cabang filsafat ilmu yang
mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi berasal dari
kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai.
H.
Sejarah perkembangan Ilmu
Menurut
The Liang Gie (1987) Ilmu adalah
rangkaian aktifitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh
pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya,
dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang
ingin dimengerti manusia .
Ilmu
bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem, dan terukur serta dapat
dibuktikan kebenarannya secara empiris.
• pengetahuan keseluruhan pengetahuan yang
belum tersusun, baik mengenai metafisik maupun fisik.
•
Jadi ilmu lebih khusus dari pada pengetahuan, tetapi tidak berarti semua ilmu
adalah pengetahuan.
•
ilmu pengetahuan di sini adalah ilmu bukan pengetahuan, ilmu yang
beraneka-ragam.
Maskoeri
Jasin membagi ilmu pengetahuan ke tiga kategori besar, yaitu :
•
Ilmu Pengetahuan Sosial : meliputi psikologi, pendidikan, antropologi,
etnologi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi.
•
Ilmu Pengetahuan Alam : fisika, kimia, dan biologi (botani, zoologi, morfologi,
anatomi, fisiologi, sitologi, histologi, dan palaentologi).
•
Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa : meliputi geologi (petrologi, vulkanologi,
dan mineralogi), astronomi, dan geografi (fisiografi dan geografi biologi).
I.Landasan
penelahaan Ilmu
Landasan
pokok dalam penelaahan ilmu bertumpu pada tiga cabang filsafat, yaitu ontologi,
epistimologi dan aksiologi. Landasan ontologi berkaitan dengan pemahaman
seseorang tentang kenyataan, landasan epistemologi memberikan pemahaman tentang
sumber dan sarana pengetahuan manusia sedangkan landasan aksiologi yang
memberikan suatu pemahaman tentang nilai hubungan kualitas obyek dengan subyek
(ilmuan) .
1. Landasan Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang
membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan ontologi
mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki
dari objek tersebut .
Contoh:
ada pertanyaan, Siapakah manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi
sedang ilmu politik menjawab manusia adalah mahluk politikal.
2. Landasan Epistimologi
Epistimologi adalah cabang filsafat yang
membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau
kebenaran penget
3.
Landasan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang
mempelajari tentang nilai secara umum
D.
Keterkaitan Landasan Ontologi, Epistimologi dan aksiologi
Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang
mempunyai ciri-ciri tertentu. Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang
spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistimologi) dan untuk apa
(aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan
antar satu dengan lainnya.
J. Sarana Berfikir Ilmiah
Sarana
ilmiah pada dasarnya merupakan "alat yang dapat membantu kegiatan
ilmiah" dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu,
diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah, maka sebelum kita
mengkaji sarana-sarana berpikir ilmiah ini, seyogyanga kita sudah mengetahui
(menguasai) langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah tersebut.
Dengan
jalan ini, maka kita akan sampai pada hakikat sarana yang sebenarnya, sebab
sarana merupakan alat yang dapat membantu kita dalam mencapai suatu tujuan
tertentu. Atau dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang
khas dalam kaitannya dengan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Sarana
berpikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita, merupakan bidang studi
tersendiri. Artinya, kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti kita
mempelajari berbagai cabang ilmu. Dalam hal ini, kita harus memperhatikan dua
hal, yakni:
Pertama,
sarana ilmiah "bukan merupakan ilmu", dalam pengertian bahwa sarana
ilmiah itu merupakan "kumpulan pengetahuan" yang bisa kita dapatkan
berdasarkan metode ilmiah. Seperti kita ketahui, bahwa salah satu karakteristik
dalam ilmu, misalnya, adalah penggunaan berpikir induktif dan deduktif untuk
mendapatkan pengetahuan yang benar. Sarana berpikir ilmiah tidak menggunakan
cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Secara lebih tuntas, dapat dikatakan
bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai "metode tersendiri" dalam
mendapatkan pengetahuannya, yang berbeda dengan metode ilmiah.
Kedua,
tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah "untuk memungkinkan kita dalam
melakukan penelaahan ilmiah secara lebih baik". Sedangkan tujuan
mempelajari ilmu dimaksudkan "untuk mendapatkan pengetahuan yang
memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari".
Dalam
hal ini, maka sarana berpikir ilmiah merupakan "alat bagi cabang-cabang
pengetahuan" untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode
ilmiah. Atau secara lebih sederhana, sarana berpikir ilmiah ini merupakan
"alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik".
Jelaslah sekarang, kiranya mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode
tersendiri, yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya,
sebab salah satu fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah, dan
bukan merupakan ilmu itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar