A. FILSAFAT
Filsafat adalah pandangan hidup
seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan
yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang
sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin
melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Kata
filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة. Kata filosofi yang dipungut dari
bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan kata
aslinya, yang diambil dari bahasa Yunani (philosophia). Arti harafiahnya adalah seorang
"pencinta kebijaksanaan" atau "ilmu".
B. ILMU
PENGETAHUAN SEBAGAI SKETSA UMUM PENGANTAR UNTUK MEMAHAMI FILSAFAT ILMU
Filsafat
Ilmu sebagai Landasan Pengembangan Pengetahuan Alam
Frank (dalam Soeparmo, 1984), dengan mengambil
sebuah rantai sebagai perbandingan, menjelaskan bahwa fungsi filsafat ilmu
pengetahuan alam adalah mengembangkan pengertian tentang strategi dan taktik
ilmu pengetahuan alam. Rantai tersebut sebelum tahun 1600, menghubungkan
filsafat disatu pangkal dan ilmu pengetahuan alam di ujung lain secara
berkesinambungan. Sesudah tahun 1600, rantai itu putus. Ilmu pengetahuan alam
memisahkan diri dari filsafat. Ilmu pengetahuan alam menempuh jalan praktis
dalam menurunkan hukum-hukumnya. Menurut Frank, fungsi filsafat ilmu
pengetahuan alam adalah menjembatani putusnya rantai tersebut dan menunjukkan bagaimana
seseorang beranjak dari pandangan common sense (pra-pengetahuan) ke
prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alam. Filsafat ilmu pengetahuan alam
bertanggung jawab untuk membentuk kesatuan pandangan dunia yang di dalamnya
ilmu pengetahuan alam, filsafat dan kemanusian mempunyai hubungan erat.
Sastrapratedja (1997), mengemukakan bahwa
ilmu-ilmu alam secara fundamental dan struktural diarahkan pada produksi
pengetahuan teknis dan yang dapat digunakan. Ilmu pengetahuan alam merupakan
bentuk refleksif (relefxion form) dari proses belajar yang ada dalam struktur
tindakan instrumentasi, yaitu tindakan yang ditujukan untuk mengendalikan
kondisi eksternal manusia. Ilmu pengetahuan alam terkait dengan kepentingan
dalam meramal (memprediksi) dan mengendalikan proses alam. Positivisme
menyamakan rasionalitas dengan rasionalitas teknis dan ilmu pengetahuan dengan
ilmu pengetahuan alam.
Menurut Van Melsen (1985), ciri khas pertama
yang menandai ilmu alam ialah bahwa ilmu itu melukiskan kenyataan menurut
aspek-aspek yang mengizinkan registrasi inderawi yang langsung. Hal kedua yang
penting mengenai registrasi ini adalah bahwa dalam keadaan ilmu alam sekarang
ini registrasi itu tidak menyangkut pengamatan terhadap benda-benda dan
gejala-gejala alamiah, sebagaimana spontan disajikan kepada kita. Yang
diregistrasi dalam eksperimen adalah cara benda-benda bereaksi atas “campur
tangan” eksperimental kita. Eksperimentasi yang aktif itu memungkinkan suatu
analisis jauh lebih teliti terhadap banyak faktor yang dalam pengamatan konkrit
selalu terdapat bersama-sama. Tanpa pengamatan eksperimental kita tidak akan
tahu menahu tentang elektron-elektron dan bagian-bagian elementer lainnya.
Ilmu pengetahuan alam mulai berdiri sendiri
sejak abad ke 17. Kemudian pada tahun 1853, Auguste Comte mengadakan
penggolongan ilmu pengetahuan. Pada dasarnya penggolongan ilmu pengetahuan yang
dilakukan oleh Auguste Comte (dalam Koento Wibisono, 1996), sejalan dengan
sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan bahwa gejala-gejala dalam
ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih dahulu. Dengan
mempelajari gejala-gejala yang paling sederhana dan paling umum secara lebih
tenang dan rasional, kita akan memperoleh landasan baru bagi ilmu-ilmu
pengetahuan yang saling berkaitan untuk dapat berkembang secara lebih cepat.
Dalam penggolongan ilmu pengetahuan tersebut, dimulai dari Matematika,
Astronomi, Fisika, Ilmu Kimia, Biologi dan Sosilogi. Ilmu Kimia diurutkan dalam
urutan keempat.
Penggolongan tersebut didasarkan pada urutan tata
jenjang, asas ketergantungan dan ukuran kesederhanaan. Dalam urutan itu, setiap
ilmu yang terdahulu adalah lebih tua sejarahnya, secara logis lebih sederhana
dan lebih luas penerapannya daripada setiap ilmu yang dibelakangnya (The Liang
Gie, 1999).
Pada pengelompokkan tersebut, meskipun tidak
dijelaskan induk dari setiap ilmu tetapi dalam kenyataannya sekarang bahwa
fisika, kimia dan biologi adalah bagian dari kelompok ilmu pengetahuan alam.
Ilmu kimia adalah suatu ilmu yang mempelajari
perubahan materi serta energi yang menyertai perubahan materi. Menurut
ensiklopedi ilmu (dalam The Liang Gie, 1999), ilmu kimia dapat digolongkan ke
dalam beberapa sub-sub ilmu yakni: kimia an organik, kimia organik, kimia
analitis, kimia fisik serta kimia nuklir.
Selanjutnya Auguste Comte (dalam Koento
Wibisono, 1996) memberi efinisi tentang ilmu kimia sebagai “… that it relates
to the law of the phenomena of composition and decomposition, which result from
the molecular and specific mutual action of different subtances, natural or
artificial” ( arti harafiahnya kira-kira adalah ilmu yang berhubungan dengan
hukum gejala komposisi dan dekomposisi dari zat-zat yang terjadi secara alami
maupun sintetik). Untuk itu pendekatan yang dipergunakan dalam ilmu kimia tidak
saja melalui pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen), melainkan juga
dengan perbandingan (komparasi).
Jika melihat dari sejarah perkembangan ilmu
pengetahuan alam, pada mulanya orang tetap mempertahankan penggunaan
nama/istilah filsafat alam bagi ilmu pengetahuan alam. Hal ini dapat dilihat
dari judul karya utama dari pelopor ahli kimia yaitu John Dalton: New Princiles
of Chemical Philosophy.
Berdasarkan hal tersebut maka sangatlah
beralasan bahwa ilmu pengetahuan alam tidak terlepas dari hubungan dengan ilmu
induknya yaitu filsafat. Untuk itu diharapkan uraian ini dapat memberikan dasar
bagi para ilmuan IPA dalam merenungkan kembali sejarah perkembangan ilmu alam
dan dalam pengembangan ilmu IPA selanjutnya.
C. FENOMENOLOGI
PENGETAHUAN DAN ILMU
Fenomenologi
(Inggris: Phenomenology) berasal dari bahasa Yunani phainomenon dan logos.
Phainomenon berarti tampak dan phainen berarti memperlihatkan. Sedangkan logos
berarti kata, ucapan, rasio, pertimbangan. Dengan demikian, fenomenologi secara
umum dapat diartikan sebagai kajian terhadap fenomena atau apa-apa yang nampak.
Lorens Bagus memberikan dua pengertian terhadap fenomenologi. Dalam arti luas,
fenomenologi berarti ilmu tentang gejala-gejala atau apa saja yang tampak.
Dalam arti sempit, ilmu tentang gejala-gejala yang menampakkan diri pada
kesadaran kita.
Sebagai
sebuah arah baru dalam filsafat, fenomenologi dimulai oleh Edmund Husserl (1859
– 1938), untuk mematok suatu dasar yang tak dapat dibantah, ia memakai apa yang
disebutnya metode fenomenologis. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh besar dalam
mengembangkan fenomenologi. Namun istilah fenomenologi itu sendiri sudah ada
sebelum Husserl. Istilah fenomenologi secara filosofis pertama kali dipakai
oleh J.H. Lambert (1764). Dia memasukkan dalam kebenaran (alethiologia), ajaran
mengenai gejala (fenomenologia). Maksudnya adalah menemukan sebab-sebab
subjektif dan objektif ciri-ciri bayangan objek pengalaman inderawi (fenomen).
Fenomenologi
berkembang sebagai metode untuk mendekati fenomena-fenomena dalam kemurniannya.
Fenomena disini dipahami sebagai segala sesuatu yang dengan suatu cara tertentu
tampil dalam kesadaran kita. Baik berupa sesuatu sebagai hasil rekaan maupun
berupa sesuatu yang nyata, yang berupa gagasan maupun kenyataan. Yang penting
ialah pengembangan suatu metode yang tidak memalsukan fenomena, melainkan dapat
mendeskripsikannya seperti penampilannya tanpa prasangka sama sekali. Seorang
fenomenolog hendak menanggalkan segenap teori, praanggapan serta prasangka,
agar dapat memahami fenomena sebagaimana adanya: "Zu den Sachen
Selbst" (kembali kepada bendanya sendiri).
Tugas
utama fenomenologi menurut Husserl adalah menjalin keterkaitan manusia dengan
realitas. Bagi Husserl, realitas bukan suatu yang berbeda pada dirinya lepas
dari manusia yang mengamati. Realitas itu mewujudkan diri, atau menurut
ungkapan Martin Heideger, yang juga seorang fenomenolog: “Sifat realitas itu
membutuhkan keberadaan manusia”. Filsafat fenomenologi berusaha untuk mencapai
pengertian yang sebenarnya dengan cara menerobos semua fenomena yang
menampakkan diri menuju kepada bendanya yang sebenarnya. Usaha inilah yang
dinamakan untuk mencapai “Hakikat segala sesuatu”.
D. FILSAFAT
PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Pengetahuan
adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan pemahaman yang dimiliki
manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk manusia dan kehidupannya.
Sedangkan Ilmu Pengetahauan adalah keseluruhan sistem pengetahuan manusia yang
telah di bakukan secara sistematis. Ini berarti pengetahuan lebih spontan
sifatnya, sedangkan Ilmu Pengetahuan lebih sistematis dan reflektif. Dengan
demikian, pengetahuan mencakup segala sesuatu yang di ketahui manusia tanpa
perlu berarti telah di bakukan secara sistematis. Pengetahuan mencakup
penalaran, penjelasan dan pemahaman manusia tentang segala sesuatu. Juga,
mencakup praktek atau kemampuan teknis dalam memecahkan berbagai persoalan
hidup yang belum di bakukan secara sistematis dan metodis.
Filsafat ilmu pengetahuan adalah cabang
filsafat yang mempersoalkan dan mengkaji segala persoalan yang berkaitan dengan
ilmu penegtahuan.
Sebelum munculnya ilmu pengetahuan,
manusia telah berupaya menjelaskan dan memahami berbagai peristiwa tersebut
melalui apa yang dikenal sebagai mitos atau cerita dongeng. Melalui
cerita-cerita dongeng, manusia berupaya menjelaskan secara masuk akal
(reasonable) makna berbagai peristiwa dan keterkaitannya dengan peristiwa
lainnya. Melalui mitos-mitos itu manusia lalu memahami pada tingkat yang sangat
sederhana, misalnya, dari mana asal usul bumi ini, dari mana munculnya manusia,
bagaimana terjadinya gempa, guntur, kilat, dan seterusnya. Dengan pemahaman
yang sangat sederhana itu, mereka dapat menata kehidupannya secara lebih baik.
Melalui ilmu pengetahuan, berbagai
peristiwa alam semesta lalu di jelaskan secara lain dalam kerangka teori atau
hukum ilmiah yang lebih masuk akal, dan klebih biasa dibuktikan dengan berbagai
perangkat metodis yang berkembang kemudian sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan itu sendiri.
E. FOKUS
FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
Ilmu pengetahuan merupakan karya budi yang
logis dan imajinatif. Tanpa imajinasi dan logika dari seorang kopernikus, suatu
gagasan besar tentang heliosentrisme tidak akan muncul. Begiti juga halnya jika
kita berbicara tentang ilmuan-ilmuan lain. Metode-metode ilmu pengetahuan
adalah metode-metode yang logis karena ilmu pengetahuan mempraktekan logika.
Namun selain logika temuan-temuan dalam ilmu pengetahuan dimungkinkan oleh akan
budi manusia yang terbuka pada realitis. Keterbukaan budi manusia pada realitas
itu kita sebut imajinasi. Maka logika dan imajinasi merupakan dua dimensi
penting dari seluruh cara kerja ilmu pengetahuan.
Tak pernah ada imajinasi tanpa logika dalam
ilmu pengetahuan. Keduannya akan berjalan bersamaan. Namun pendekatan pertama
tidaklah cukup. Ilmu pengetahuan telah berkembang sebagai bagian dari hidup
kita sebagai manusia dalam masyarakat. Dengan alasan itu, filsafat ilmu
pengetahuan pelu mengarahkan diri selain kepada pembicaraan tentang masalah
metode ilmu pengetahuan juga harus berbicara tentang hubungan antara ilmu
pengetahuan dan masyarakat. Implikasi sosial dan etis dari ilmu pengetahuan
akan dibicarakan dalam konteks ini. Topik yang dibicarakan disini antara lain
adalah hubungan antara ilmu pengetahuan dengan life-world, antara ilmu
pengetahuan dan politik, bagaimana harus membangun ilmu pengetahuan dalam
masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar