Kamis, 13 November 2014

Playboy In The School

Playboy In The School
      Ali, nanti sore jalan yuk
      Sayang, pulang sekolah anterin shopping yah…
      Honey, malem nonton yuk.
SMS di hape Ali penuh SMS dari semua pacarnya, Ali memang punya banyak pacar. Bukan karena punya sifat playboy, tapi karena Ali tidak tega menolak semua yang nembak dia. Makanya sekarang Ali dijuluki Playboy In The Scholl atau PTS. Jelas Ali merasa tidak nyaman dengan semua perlakuan pacarnya, dan sampai sekarang Ali belum menemukan seseorang yang benar-benar ia cintai.
  Maaf, kita resmi putus sejak hari ini! Keputusan Ali telah bulat, hari ini Ali akan mengakhiri semua hubungan dengan pacarnya! Spontan semua pacar Ali tidak mau hal itu sampai terjadi, tapi Ali tidak merespon semua balasan SMS dari mantan pacarnya.

“Li, lo putusin semua cewek lo?” tanya Ray sahabatnya.
“Iya, kenapa dek? Masalah?”
“Banget! Semua cewek lo yang ngandalin gue sebagai perantara pada demo ke gue, SMS dari tadi malem sampe sekarang selalu ada. Makanya hape gue tinggal, males gue! Eh, maksud gue Ali bukan kakak.”
“Lo aja males, apalagi gue Ray. Dari semua cewek nggak ada yang gue suka.”
“Serius? Bukannya lo jatuh cinta sama Prilly?”
“Ha? Prilly? Setelah gue tahu Prilly nggak menarik.”
“Mau lo kayak apa sih?”
“Cewek idaman gue tuh, setia, putih, pinter, sholeha, baik, cantik, tinggi, perfectlah.” Ucap Ali sembari melihat sesosok anak baru yang lewat di depannya.
“Jangan bilang lo suka sama anak baru itu!”
“Bener, Ray!” Ali pun berlari mengejar cewek itu, tapi…
 “Pagi kak Alvin!”
“Pagi Yang, nggak nyangka kita satu sekolah.” Cewek itu memeluk Alvin, langsung Ali merasa hatinya hancur dan terasa perih.
“Eh, Ali! Dik, aku titip Ghina ya. Dia nanti bakal masuk kelas kamu.”
“Siap, kak!” Ali merangkul Ghina dengan PeDe dan tanpa rasa malu padahal masih ada Alvin.
“Kenalan boleh, asal nggak pakai rangkulan gitu!” Ali langsung melepas tangannya dari bahu Ghina.
“Kamu Ali ya?”
“Iya, nama kamu siapa?”
“Ghina,” perkenalan itu membuat Ali bahagia, sebab ia telah menemukan pujaan hati yang dicarinya.
“Kak Alvin, pacar kamu?”
“Ah, iya. Kenapa? Cemburu ya?”
“Tahu aja kamu!” Ups, keceplosan.
“Aku bilangin ke kak Alvin lho!”
 “Jangan, Ghina! “

 Ghina, aku suka sama kamu!
  g prcy, bktiin bsk dsklh!
“Katanya suka sama aku.” Sindir Ghina pada Ali.
“Nggak berani sampe pacaran, Ghi. Mending kita TTM aja. Biar kak Alvin jugga nggak kashian.”
“O.K.” Sejak saat itu Ghina dan Ali menikmati hari bersama, duduk berdua, makan berdua, jalan-jalan berdua, pokoknya hampir satu sekolah tahunya Ghina pacarnya Ali. Tapi setiap ditanya pasti jawabannya ‘Kita nggak pacaran!’
 Sudah sekitar 4 bulan Ali dan Ghina TTM-an, dan mereka tetap menjalaninya dengan suka cita. Sebenarnya Ghina  bukan pacarnya Alvin, tapi mereka itu hanya bersaudara. Dan sampai sekarang Ghina masih merahasiakannya.
“Ghi, kak Alvin dateng tuh. Cepet jauh-jauh!” komando Ali, dia memang selalu siap siaga jika Alvin lewat di depan mereka.
“Dik, nanti kumpul, kan?” Alvin menepuk bahu Ghina
“Ah, iya dong. Nanti mama kakak ikut, nggak?”
“Hmm, nggak tahu juga, Ghi. Tenang nanti papaku pasti dateng.” Kemudian Alvin berlalu, langsung Ali mengambil jarak dekat lagi dengan Ghina.
“Mau ngapain nanti, Ghi?” Ghina , menahan tawanya, tapi kemudian menjawab.
“Mau ngelamar aku! Hahahaha”
“Lho, kok ketawa?”
“Kamu nggak ngerasa ya? Aku sama kak Alvin tuh masih sepupu. Mana mungkin pacaran? Aneh-aneh aja.”
“Tapi kok waktu itu kak Alvin panggil Yang?”
“Nama aku kan Ghina Hani Qayang. Jadi kak Alvin panggil aku Qayang, atau Yang.”
“Jadi? Selama ini sama aja kita kayak pacaran dong?”
“TTM, Ali!” Ghina mengacak-acak rambut Ali.
Hari itu jadi hari perenungan buat Ali tentunya, karena dia baru sadar bahwa ia dan Ghina sudah sangat dekat. Sebenarnya ia ingin menyatakan cintanya, tapi karena pertama kali jadi sedikit grogi. “Gimana sih cara nembak cewek?” gumam Ali sendiri.
“Aku tahu caranya!”
  Esoknya pelajaran seni musik Ali membawa gitar, kebetulan pelajaran seni musik adalah pelajaran terakhir jadi bisa latihan dulu.
“Oh… Yeah heah yeah…Mmm. I'd wait on you forever and a day, hand and foot, your world is my world, yeah… Ain't no way you're ever gon' get, any less than you should, cause baby. You smile I smile, oh….. Cause whenever, you smile I smile…” tepuk tangan mengiringi selesainya latihan Ali. Ali langsung bingung kenapa semua teman sekelasnya bertepuk tangan? Tapi ya sudahlah….. “Ali, bagus banget!” Ghina pun memeluk Ali, nah kesempatan ini tiak disia-siakan oleh Ali.
“It’s a big big world, tt’s easy to get lost in it, you’ve always been my girl, and I’m not ready to call it quits, we can make the sun shine in the moonlight, we can make the great clouds fill the blue skies, I know it’s hard baby believe me…”
“Lagu ini buat kamu! Aku cinta Ghina Hani Qayang! I Love You Ivon!” Semua tercengang mendengar penutup lagunya itu, terutama Ghina.
“Ali? Jadi selama ini kamu anggep aku suka sama kamu?”
“Kalau itu aku nggak tahu, tapi aku ingin kamu jadi pacar aku.”
“Sini!” Ghina menggeret tangan Ali mengajaknya pergi dari kerumunan di kelas.
“Kamu bilang kita cuma TTM.” Ghina mendahului percakapan ini.
“Tapi setelah tahu kamu bukan milik kak Alvin, aku beranikan diri untuk nembak kamu. Apa salah?”
“Maaf, Ali. Tapi kamu sendiri yang nyuruh kita cuma TTM-an aja, jadi aku nurut apa kata kamu. Dan asal kamu tahu sekarang aku udah pacaran sama… Ray!”
“Apa? Kamu nggak salah pilih?”
“Nggak Ali, aku tahu kamu tuh perfect tapi aku cuma sayang sama Ray. Maaf, ya…” Kemudian Ghina memeluk Ali sebagai tanda permintaan maaf.
“O.K. Aku bisa nerima semuanya, tapi kita tetap TTM-an kan?”
“Siap! Aku janji saat aku sudah putus sama Ray, aku bakal nerima kamu!”

Sejak saat itu Cakka pun mengerti apa itu cinta, yaitu tak harus memiliki. Dan harus secepatnya menyatakan perasaan itu pada orang yang kita cintai, sebab mana kita tahu bahwa dia telah dimiliki orang lain? Kalau tidak segera bisa-bisa diambil orang. Nah ini juga penting, yaitu menunggu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar