Berang-berang
Gaus Leus
Lebih cepat Pino,ayo kejar
Poni... !
Jangan mau kalah
Poni,berenanglah lebih cepat...!
Pino menyusul..!
Poni masih memimpin...!
“Yun,kapan yah kita bisa ke Paris?”
“kapan saja bisa kok,kita kendarai Poni dan Pino
saja”
“ngaco kamu,nanti kalo udah besar aku mau ke sana”
“emangnya bisa?”
“bisa dong,kalau kita mau berusaha,belajar dan
berdoa”
“eh... Poni sampai finish duluan”
Poni
kembali berenang ke arahku,cipratan air sungai yang dingin di pagi itu
berkali-kali menampar wajahkua,aku mengelus-ngelus Poni,berang-berang yang
sangat lucu. Kulihat Naya juga asyik bermain air dengan Pino,walaupun
berang-berang miliknya kalah tetapi Naya tidak marah ia tetap dengan ceria
bermain air bersama Pino. Baru dua bulan berang-berang itu menjadi milik kami
setelah susah payah kami menolongnya yang terjepit di ranting pohong yang
terjatuh di sungai dan sekarang kami begitu terlihat akrab.
Suara cipratan air itu? Kenangan masa lalu itu?
Perlahan mataku terbuka terlihat bebatuan bukit di
sekelilingku. Aku pun tidak bisa bergerak karena seluruh tubuhku terasa sakit
apalagi ketika kucoba mengingat apa yang terjadi padaku,kepalaku menjadi berat
dan pusing. Kupaksakan juga untuk mengingatnya. Dua puluh jam yang lalu pesawat
lepas landas dari Paris menuju Indonesia,Aceh setelah sebelumnya transit. Tiga
hari yang lalu aku mendapat surat berisi kabar tidak menyenangkan,Naya sahabat
masa kecilku sakit keras di sana,dia membutuhkan dokter sekaligus sahabat masa
kecilnya. Aku.
Setelah meminta surat izin dari pihak Rumah Sakit
di Paris aku segera menaiki pesawat untuk sampai di sana tapi sekarang aku
berada di antah berantah tanpa ada satu orang pun yang bisa menolongku. Aku
tidak boleh terlambat,aku harus segera menolong Naya tetapi apa yang bisa aku lakukan
dengan keadaan seperti ini? Aku hanya bisa berdoa agar segera sampai di Gaus
Leus dan menolong sahabat masa kecilku. Semoga !
Tubuhku belum bisa beringsut sedikit pun,rasanya
sakit sekali. Maafkan aku Nay,jika aku tidak bisa datang tepat waktu karena aku
pun tidak tahu bagaimana nasibku selanjutnya. Jika aku terlambat apakah aku
dokter yang gagal? Apakah aku sahabat yang gagal?
-
Sore yang malang aku harus memeritahu Naya kalau
aku harus pergi meninggalkannya ke Paris juga meninggalkan Poni yang lucu. Gerimis
ternyata lebih dulu mengelamkan suasana,aku pun tidak bisa berkata dengan
normal. Tertatih !
“Naya,maafkan aku”
“untuk apa kamu minta maaf padaku Yuna?aku tahu
cepat atau lambat kita akan berpisah,ternyata kamu lebih beruntung yah dapat
menjajah tanah Paris”
“kamu sudah tahu Nay?”
“iya,aku sudah membaca surat beasiswa itu. Maaf!”
“kamu tidak marah kan?”
“kenapa aku mesti marah jika sahabatku dapat
meraih ambisinya,aku justru senang Yun. Pergilah! Gapailah impianmu!”
“terima kasih Nay,aku pasti merindukanmu,merindukan
tempat ini dan juga Poni dan Pino. Aku titip Poni yah?”
“aku akan menjaganya sampai kau kembali lagi ke
sini,aku akan merindukan calon dokter yang manis,hehe”
“jaga dirimu baik-baik aku akan segera
meyelesaikan kuliahku dan kembali lagi ke sini”
“kau janji?”
“iya,aku janji!”
Iya,aku
janji !
Iya,aku
janji !
Iya,aku
janji !
~
Ukh!
Bayangan masa lalu itu kembali lagi menghantui fikiranku,membuatku kembali
tersadar dari pingsan yang menyakitkan ini. Aku tahu, aku tidak boleh diam saja.
Kucoba menggerakkan sebagian tubuhku,sakit tapi rasanya tak sesakit apa yang
dirasakan Naya di sana,aku harus berjuang demi dia. Tapi,jika aku bisa berada
di luar pesawat pasti ada orang lain juga di sini,mustahil aku bisa berada di
sini dengan sendirinya. Aku harus menemukan pesawat itu karena aku membutuhkan
koperku, di sana berisi peralatan medis sederhana dan berbagai
obat-obatan,tidak mungkin juga aku ke Gaus Leus dengan tangan kosong. Dengan
mengerahkan tenaga sepenuhnya aku berjalan tertatih mencari pertolongan dan
setelah berjam-jam aku mencari seseorang akhirnya aku bisa menemukan pos
jaga,benar dugaanku aku tidak sendiri ternyata banyak korban yang keadaannya
lebih parah dariku.
“Nona,biar kubantu”
“tidak perlu,aku hanya perlu koperku dan mengetahui
keberadaanku”
“koper? Ada beberapa koper dan tas yang berhasil
diselamatkan,mungkin salah satunya milik Nona. Nona berada di Bromo”
“Bromo?masih jauh dari Gaus Leus?”
“tidak jauh jika menggunakan helikopter”
“bisa antar aku ke sana?”
“bisa”
Aku
sangat beruntung bisa bertemu dengan Relawan yang baik hati ini,setelah aku
berhasil menemukan koperku aku diantar olehnya dengan helikopter,luka-luka di
tubuhku juga diobatnya dengan lembut. Ridwan,Relawan mudah,baik hati dan tampan
relah dengan lelah membantu para korban,seketika aku mengagumi sosoknya.
“terima kasih”
“sama-sama,kenapa Nona ingin cepat-cepat ke Gaus
Leus?”
“sahabatku sakit keras aku harus menolongnya,tidak
ada dokter yang bersedia untuk mengabdi di tempat terpencil seperti itu. Dia
membutuhkanku.”
“Nona seorang dokter?”
“iya,aku sedang bertugas di Paris”
Cuaca sedang buruk helikopter tidak dapat menjamah
Gaus Leus lebih dekat terpaksa aku harus turun dan berjalan menuju Gaus Leus
tetapi kakiku masih terasa sangat sakit. Aku harus berjalan tertatih tetapi aku
juga merasa bersyukur lagi karena Ridwan mau membantuku menitih bebatuan dan
anak sungai yang curam.
“jalannya tidak bagus”
“dari dulu memang seperti ini,maaf aku
merepotkanmu”
“tidak apa-apa Nona,ini juga sebagian dari
tugasku”
Byurr.. aku melihat Poni yang berenang dengan
lincah di sungai sendirian,Naya ternyata telah menempati janjinya untuk menjaga
Poni sampai aku kembali lagi ke sini tetapi aku sama sekali tak melihat Pino
bahkan tak merasakan kehadirannya ,perasaanku menjadi tidak enak. Aku berharap
tidak terlambat ke sana. Aku segera berjalan tertatih menuju rumah yang sangat
kukenal,tidak banyak berubah dari dulu.
“Naya menunggumu Yuna” bisik suara parau ibuku
Ibu, dia tidak setegar dulu. Ibu,aku rindu!
“menungguku?”
Kulihat Naya memamerkan senyum yang khas dan
hangat ke arahku,aku tak dapat menahan air mata seketika air mataku tumpah
deras. Lihat Naya Yun,tubuhnya sungguh ringkih dan mengecil ternyata sakit kerasnya telah menggerogoti
sebagian organ tubuhnya yang membuatnya hanya bisa terbaring lemah. Aku segera
mengeluarkan peralatan medisku tapi tangan mungil Naya dengan cepat menahan
tanganku.
“aku tidak butuh peralatanmu Yun,aku hanya ingin
melihat kamu”
“tapi kamu harus sembuh Nay,demi aku”
“waktuku tak banyak Yun,aku bahagia bisa melihat
wajahmu lagi”
“jangan bicara begitu,kamu pasti bisa sembuh”
“aku rindu kamu Yun dan aku tidak pernah kecewa
walaupun kamu tidak bisa datang melihatku dan sekarang aku sangat bahagia
karena kamu bisa meluangkan waktumu untukku”
“maafkan aku Nay”
“tak apa, kamu lihat Pino di sungai?”
“tidak Nay,kemana dia?”
“dia sedang menungguku,menunggu waktu membawaku
pergi”
Naya tersenyum hangat,sungguh hangat tetapi sangat
menyakitkan bagiku karena itu senyum terakhirnya. Maafkan aku Nay,aku baru bisa
menempati janjiku untuk kembali ke sini. Apakah aku terlambat?
~
Aku menatap haru Poni,jika berang-berang itu sudah
tidak bisa berenang dan merasakan dinginnya air sungai itu artinya waktuku
untuk menghirup dunia juga habis. Aku melepasnya pergi untuk melanjutkan
hidupnya sendirian sama sepertiku. Biarkan kita meniti hidup masing-masing,jika
waktu kita habis kita kan bertemu kembali.
selesai
karya : Eka Widiyana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar