Sabtu, 08 November 2014

Teori-teori Pengetahuan 2

d. Masalah Kepastian dan Falibilisme Moderat
1.  Masalah Kepastian Kebenaran Ilmiah
Dalam empat macam kebenaran, melahirkan 2 pandangan yang berbeda, yaitu pandangan kaum rasionalis yang menekankan kebenaran logis-rasional, dan pandangan kaum empirisis yang menekankan kebenaran empiris.
Kebenaran kaum rasionalis bersifat sementara, terlepas dari seberapa tinggi tingkat kepastiannya karena kebenaran sebagai keteguhan dari suatu pernyataan atau kesimpulan sangat tergantung pada kebenaran teori atau pernyataan lain. padahal, teori atau pernyataan lain sangat mungkin salah.
Sedangkan kaum empirisis tidak pernah berpretensi untuk menghasilkan suatu pengetahuan yang pasti benar tentang alam. Bagi mereka, ilmu pengetahuan tidak memiliki ambisi seperti iman dalam agama. Ilmu pengetahuan tudak akan pernah memberikan suatu formulasi final dan absolut tentang seluruh universum = falibilisme.
Falibilisme beranggapan bahwa kendati pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang paling baik yang dapat kita miliki.
2.      Falibilisme dan Metode Ilmu Pengetahuan
Falibilisme ilmu pengetahuan berasal dari dua sumber, yaitu sebagai konsekuensi dari metode ilmu pengetahuan, dan dari objek ilmu pengetahuan yaitu universum alam.
Indikasi metodologis sebagai alasan dari falibilisme moderat :
a. Peneliti sendiri tidak pernah merasa pasti dengan apa yang    dicapainya     sendiri.
b. Fokus utama dari kegiatan penelitian ilmiah adalah verifikasi dan      hipotesis.
c. Karena metode induksi.
d. Setiap hipotesis pada dasarnya tidak pasti.

3.      Falibilisme dan Objek Ilmu Pengetahuan     
a.      Realitas objek
-          Nyata berarti lepas dari pikiran manusia.
-          Realitas dapat dikatakan real jika memang dapat dikenal.
-          Realitas yang dibicarakan ilmu pengetahuan adalah realitas publik, realitas yang  menjadi perhatian banyak orang. Yang real berarti yang memiliki dimensi sosial.
b.      Evolusi objek pengetahuan ilmiah
Objek ilmu pengetahuan selalu berubah-ubah dan mengalami perkembangan.
Aspek :
-          Objek pengetahuan ilmiah selalu berubah sehingga pengetahuan yang kita capai, sekalipun sangat akurat, harus ditinjau kembali.
-          Objek dari pengetahuan kita selalu berkembang kepada regularitas.
Maka, pengetahuan kita selalu rentan terhadap kesalahan.
Semenjak Ch. Darwin dan Lamarck, gagasan evolusi sudah menjadi gagasan penting dalam dunia organis.
Clarence King, evolusi atau perubahan selain menjadi gejala organis juga menjadi gejala lingkungan, realitas alam pada umumnya.
Filsuf Yunani seperti Herakleitos dan Aristoteles, evolusi merupakan kenyataan dasar dari setiap realitas.
Kebenaran empiris termasuk ilmu kemanusiaan :
- Kepastian tentang pernyataan yang menjelaskan gejala-gejala yang diselidiki.
- Kepastian tentang kesimpulan yang ditarik sebagai suatu hukum yang berlaku    umum.
e. Ilmu Teknologi dan Kebudayaan
HubunganTeknologi dan Kebudayaan
Sejak dimulai revolusi industri di Eropa, teknologi yang dihasilakan oleh masyarakat Eropa, kemudian disebarkan keseluruh dunia ternyata memiliki berikut :
1)      Watak ekonomis yang pada intinya berorientasi pada efisiensi ekonomis dengan mengutamakan kendali pada elit pendukong finansial dan elit tenaga ahli.
2)      Ditinjau dari aspek sosial teknologi barat ternyata bersifat melanggengkan sifat ketergantungan. Ketergantungan ini terkait, baik dengan teknik produksi maupun pola konsumsi. Mata rantai produsen dan konsumen terputus. Artinya, produsen menentukan produk lebih berorientasi pada kemajuan teknologi. Iklan-iklan berbagai media massa merupakan “nabi-nabi” bagi pencipta kebutuhan baru.
3)      Struktur kebudayaan teknologi barat telah melahirkan struktur kebudayaan yang:
a.       Memandang ruang geografis dengan kacamata pusat pinggiran dengan dunia barat sebagai pusatnya.
b.      Adapun kecenderungan untuk melihat waktu sebagai suatu hal yang berkaitan dengan kemajuan dan berkembang secara linier;
c.       Adanya kecenderungan untuk memahami relaitas secara terpisah, dan memahami hubungan antara bagian sebagai hubungan mekanistis sehingga perubahan pada suatu bagian menuntut adanya penyesesuaian pada bagian yang lain;
d.      Kecenderungan untuk memandang manusia sebagai tuan atas alam dan hak-hak yang terbatas.
Dengan mempertimbangkan watak teknologi barat yang demikian, sulit kiranya untuk tidak menyebut ahli teknologi barat sebagai invasi kebudayaan barat. Globalisasi merupakan bukti betapa gelombang invasi terjadi dengan dahsyatnya. Perbincangan tentang hubungan antara teknologi dan kebudayaan dapat dititip dari dua sudut pandang, yakni dari teknologi dan kebudayaan. Dari sudut pandang teknologi terbuka alternatif untuk memandang hubungan antara teknologi dan kebudayaan dalam paradigma positifistis atau dalam paradigma teknologi tepat. Masing-masing pilihan mengandung konsekuensi yang berbeda terhadap komponen-komponen kebudayaan yang lain. Paradigma teknologi positifistis yang didasari oleh metafisika matearialistis jelas memiliki kekuatan dalam menguasai, menguras, dan memuaskan hasrat manusia yang tak terbatas. Sedangkan paradigma teknologi tepat lebih menuntut kearifan manusia secara wajar. Dari sudut pandang kebudayaan bagaimanapun juga teknologi dewasa ini merupakan anak kandung kebudayaan barat. Hal ini berarti bahwa penerimaan ataupun penolakan secara sistematik terhadap teknologi harus dilihat dalam rangka komunikasi antar sistem kebudayaan. Dengan demikian, Negara atau masyarakat pengembang teknologi bahwa suatu penemuan teknologi baru merupakan momentum proses eksternalisasi dalam rangka membangun dunia objektif yang baru, sedangkan bagi Negara atau masyarakat konsumen teknologi, suatu konsumsi teknologi baru dapat bermakna inkulturasi kebudayaan, akulturasi kebudayaan, atau bahkan invasi kebudayaan.
f. Etika Keilmuan
Etika merupakan cabang aksiologi yang pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai betul (right) dan salah (wrong) dalam arti susila (moral) dan tidak susila (immoral). Maka lebih tepat dikatakan bahwa objek formal dari etika adalah norma-norma kesusilaan manusia. Etika bisa dibilang sesuatu yang membatasi. Membatasi dalam hal ini memiliki tujuan agar tidak terjadi deviasi nilai dalam sistem masyarakat.
Etika keilmuan merupakan etika normatif  yang merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan dapat diterapkan dalam ilmu pengetahuan. Tujuan etika keilmuan adalah agar seorang ilmuwan dapat menerapkan prinsip-prinsip moral, yaitu yang baik dan menghindarkan dari yang buruk ke dalam perilaku keilmuannya, sehingga ia dapat menjadi ilmuwan yang mempertanggungjawabkan perilaku ilmiahnya. Pokok persoalan dalam etika keilmuan selalu mengacu pada elemen-elemen kaidah moral, yaitu hati nurani, kebebasan dan tanggungjawab, nilai dan norma yang bersifat utilitaristik (kegunaan).  Dengan demikian, maka bagi seorang ilmuwan, nilai dan norma moral yang dimilikinya akan menjadi penentu, apakah ia sudah menjadi ilmuwan yang baik atau belum.
Ketika ada pernyataan bahwa ilmuwan memiliki tanggung jawab etis dalam penerapan ilmu, maka maknanya ialah ia dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggung jawab pada kepentingan umum, dan generasi mendatang, serta bersifat universal karena pada dasarnya ilmu bertujuan untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia, bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia.
Para ilmuwan sebagai orang yang professional dalam bidang keilmuan tentu perlu memilki visi moral khusus sebagai ilmuwan. Moral inilah yang di dalam filsafat ilmu disebut sikap ilmiah. Di antara sikap ilmiah yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan ialah: 
1.    Seorang ilmuwan harus bersikap sebagai seorang pendidik dengan memberikan contoh yang baik.
2.    Seorang ilmuwan harus bersifat objektif, terbuka, menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar dan berani mengakui kesalahan.
3.    Seorang ilmuwan harus bisa menjelaskan hasil penelitiannya sejernih mungkin atas dasar rasionalitas dan metodologis yang tepat.
Seiring dengan itu, ilmu dalam perkembangannya juga diharapkan memiliki tanggung jawab etis. Tanggung jawab etis itu sendiri bukan berkehendak mencampuri atau bahkan menghancurkan otonomi ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi bahkan dapat menjadi pengokoh eksistensi manusia. Tentunya ketika kita berbicara tentang tanggung jawab ilmu maka itu mengindikasikan adanya tanggung jawab manusia yang mengembangkan ilmu tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar